Minggu, 13 Mei 2012

Hanya satu kata : “LAWAN!”


Pagi di stasiun kereta Rancaekek, tidak menghalau orang-orang yang bergerak mencari penghidupan. Kereta belum juga tiba Orang-orang mengantri di depan loket kereta dalam kota dan beberapa menuju keluar kota. Kehadiranku hanyalah satu dari beberapa manusia yang bergerak. Tidak ada yang tahu siapa aku. Aku tidak mengenal mereka dan mereka tidak mengenal keberadaanku. Sibuk dengan pikiran masing-masing, bergerak memenuhi tujuan kehidupan. Kereta ekonomi Pasundan jurusan Bandung-Surabaya yang mengantarkanku menuju tujuan alur kehidupan. Kereta pun sesak, dari kelengangan menjadi keramaian, mungkin itu yang dirasakan oleh beberapa orang. Masinis melajukan kereta dengan kehati-hatian sesuai prosedur perhubungan. Namun orang-orang seperti tidak mengenal- atau mungkin tidak mau kompromi dengan sebuah sistem, karena kenyataan jauh dari utopia. Thesa-thesa yang membentuk sintesa tidak memberikan ruang kecukupan bagi kotak-kotak pengharapan manusia itu Pragmatis. Karena kenyataannya mereka yang membentuk sistem tidak pula ikut menjaga sistem. Tapi menghancurkannya, perlahan-lahan. 

Kereta tetap bergerak, memenuhi kecukupan rasa laparnya. Bayi-bayi menangis kegerahan. Penjual pecel, es, aksesoris, pengamen hilir mudik berteriak mencoba menghibur penumpang yang perutnya melilit rasa lapar, yang peluhnya bermandikan keringat. 

Ya, itulah potret sebagian kehidupan yang bisa kurekam. Menurut mereka gambaran itu adalah rutinitas yang sudah biasa dijalani. Banyak orang yang sudah tahu dan banyak orang yang menutup mata dengan keadaan tersebut. Lalu apa yang bisa kita lakukan? Seperti kisah kodok yang orang tua dulu atau bahkan mungkin ada orang tua sekarang yang masih memberikan pendidikan melalui kisah kodok kepada anak-anaknya, yaitu; ada seorang anak yang baru belajar berjalan, saking senangnya dia berjalan tanpa melihat sekitar dan jatuhlah anak tersebut, si ibu atau bapak pun berkata “o..ada kodok loncat yaa, nakal kodok itu!” Ya, mencari kambing hitam (tidak pernah mencari kambing putih atau coklat..hohooo). Artinya, seringkali kita mengkritik atau marah-marah kepada orang atau lembaga yang terkait dengan keadaan atau permasalahan yang terjadi tanpa memberikan solusi yang berarti. Bukan hanya kata yang diperlukan, karena orang-orang pendengarannya kurang baik. 

Hanya satu kata: Lawan. Lawan dengan kebenaran. Melawan dengan menjelaskan kondisi yang sedang terjadi kepada orang yang belum paham dan belum tahu. Memberikan pendidikan tanpa menutup kesalahan yang telah dilakukan oleh orang yang kita didik. Karena itu membangun pendidikan karakter di usia dini di sekolah maupun di rumah akan sangat membantu langkah kehidupan seperti yang digambarkan di tulisan awal. Pendidikan karakter yang utama dilakukan oleh orang tua, bukan hanya pendidik di sekolah. Tapi, keadaan saat ini hampir sebagian besar orang tua lebih mempercayakan kepada sekolah, dengan alasan orang tua sibuk dengan pekerjaannya. Padahal yang dibutuhkan oleh anak adalah perhatian orang tua, bukan sekedar materi. Walaupun begitu, kerjasama antara pihak pendidik di sekolah dan orang tua sebagai pemilik anak didik harus dikuatkan. Ya, itulah kunci keberhasilannya.    
******

Senin, 05 September 2011

Cicadas : Potret Negara Beling (bagian 1)


Daerah Cicadas sempat dikenal sebagai daerah rawan, daerah tukang mabok, tukang tarok, dan tukang nyingsatkeun anderok. Bahkan ada istilah sendiri untuk menggambarkan daerah Cicadas, yaitu ”negara beling”.
”Dahulu di sini rawan, karena banyak tukang mabok. Sekarang hanya ada satu-dua orang, dan itu pun kalau punya uang, dahulu kerawanan termasuk perzinahan (ngawinkeun randa). Kalau disebut bangsat di sini disebut bangsat kukut, orang yang sedang mabuk silih kadek (saling bacok) dengan sesama tukang mabuk,” ungkap seorang warga Cicadas yang menolak disebutkan namanya.
Citra Cicadas sebagai negara beling tidak lepas dari mitos kekerasan dan legenda kelompok-kelompok pemuda pada kurun waktu tahun 1970-an dan 1980-an. Pada akhir tahun 1970-an misalnya dikenal kelompok Rahwana, lalu kelompok bela diri Sakarima (Bandarkarima). Kemudian pada tahun 1980-an dikenal kelompok Dolar Klub, dan terakhir pada tahun 1990-an dikenal kelompok Ninja Cicadas. Di luar kelompok tersebut, ada banyak tokoh lokal yang disegani seantero Bandung Timur, sebut saja Maman Sport, Nana Berlit, Maman Skogar, dan Eman Suhada. Selain keempat tokoh tersebut ada pula yang dikenal sebagai jeger dan jawara.
Istilah jeger tidak diketahui asal usulnya, dan sekarang memiliki banyak arti. Misalnya jeger diartikan sebagai ”penguasa daerah”, ”kokoh dan kuat” (panceg jeung geger), ”pemimpin”, ”keamanan daerah”. Bahkan ada yang bercanda sebagai singkatan dari ”jig ka ditu, jig ka dieu nyieun geger” (Ke mana pun pergi membuat heboh/onar).
Demikian juga istilah ”preman” yang memiliki banyak arti. Di kalangan penduduk pada umumnya, preman berarti orang-orang yang suka mabuk, malak, tidak punya kerja, sering berkelahi, cenderung menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah. Sedangkan yang lainnya melihat preman sebagai orang-orang bebas, bebas bertindak, bertindak seenak hatinya. Apakah daerah Cicadas masih seangker dahulu? Mari kita lihat satu segmen wilayah permukiman di Cicadas, yaitu daerah yang dahulu sempat dikenal dengan nama Lemahneundeut.
Lemahneundeut adalah salah satu lingkungan permukiman padat di Cicadas yang secara administratif termasuk Kelurahan Cikutra. Permukiman ini memang padat, tetapi secara teknis tidak kumuh. Luas wilayah permukiman sekira 6.244 m2 (446 tumbak). Daerah seluas itu dihuni 170 kepala keluarga (kk) yang terdiri dari 670 jiwa. Rumah hunian dibangun permanen, nyaris tanpa koridor pemisah dengan bangunan lain. Sarana penerangan umum tersedia resmi dari PLN. Saluran telefon rumah tersedia, demikian juga sumber air bersih dari PDAM atau sumur. Awal tahun 1990-an, sempat dibangun saluran air limbah rumah tangga, sayangnya tidak berfungsi.
Lokasi sarana kesehatan dan pendidikan umum tersedia dalam jarak yang relatif dekat, misalnya Rumah Sakit Santo Yusuf, dan sejumlah sekolah dasar negeri. Terdapat tempat pembuangan sementara (TPS) sebagai sarana kebersihan yang ditempatkan di luar wilayah permukiman. Di luar itu, pengurus RW menyelenggarakan pelayanan kebersihan sendiri, yaitu memungut sampah dari rumah-rumah untuk dibawa ke TPS. Sejak awal tahun 1970-an, permukiman yang terletak persis di samping RS Santo Yusuf ini, telah menjadi rukun warga yang resmi diatur pemerintah. Status tersebut diberikan setelah dikeluarkannya Peraturan Daerah (Perda) kota Bandung tentang Pokok-Pokok Rukun Tetangga dan Rukun Warga pada tahun 1971. Pengawasan resmi terhadap lingkungan RW diperkuat lagi dengan keluarnya Perda tentang mengubah untuk pertamakalinya Perda Pokok-Pokok Rukun Tetangga dan Rukun Warga yang dikeluarkan tanggal 31 Januari 1973. Perda ini mengatur hierarki pengawasan dan pembinaan. Rukun Tetangga diawasi pengurus Rukun Warga yang diawasi Kepala Lingkungan bersama-sama Camat atau pejabat yang ditunjuk.
Ketua RW dipilih langsung. Ada bendahara dan sekretaris, lalu seksi-seksi, seperti PKK, pendidikan, lingkungan, P4, keamanan, kepemudaan, dan lain-lain. Batas-batas wilayah pun ditandai. Dalam hal Lemahneundeut, pembagian wilayah RT dilakukan sederhana saja, yaitu mengukur panjang gang yang melintas di sepanjang permukiman lalu di bagi lima. Uang kas pengurus RW berasal dari tiga jenis sumber keuangan, yaitu iuran warga, jasa keamanan, dan sumbangan dari sejumlah kegiatan ekonomi. Iuran warga sebesar Rp 2.000,00/bulan. Kas dari iuran bisa mencapai Rp 125.000,00. Uang itu digunakan untuk membayar gaji bulanan tukang sampah sebesar Rp 100.000,00. Sisanya untuk kegiatan PKK dan Kegiatan Kelompok Kerja PKK.
Selain itu, warga memberi iuran sosial sebesar Rp 1.000,00 untuk disumbangkan kepada warga yang sakit, meninggal, dan melahirkan. Sementara uang keamanan diperoleh dari pedagang kaki lima, biaya penitipan motor, dan biaya parkir mobil. Pendapatan jasa keamanan setiap bulannya mencapai Rp 120.000,00 berasal dari PKL sebesar Rp 60.000,00, parkir mobil Rp 45.000,00, dan penitipan motor Rp 15.000,00. Uang tersebut digunakan untuk gaji tim keamanan. Pendapatan lainnya disebut sebagai ”pendapatan daerah” bersumber dari pungutan terhadap ojek motor sebesar Rp 100.000,00 dan biaya parkir di lahan Super Basar (SB) sebesar Rp 50.000,00. Pendapatan ini digunakan untuk membiayai kegiatan pengurus dan sumbangan kepada warga.
Seksi-seksi di dalam organisasi kepengurusan diberi kebebasan mencari dana sendiri. Pada tahun 2005 misalnya, seksi lingkungan mencari dana melalui pengajuan proposal kegiatan ke Dinas Pertamanan, Dinas Pekerjaan Umum, dan BPLH untuk membersihkan sungai dari sampah. Demikian juga seksi kepemudaan, melalui organisasi Karang Taruna memprakarsai pengumpulan dana sumbangan dari pengguna jalan untuk kegiatan perayaan hari kemerdekaan. Pengumpulan dana dilakukan melalui mekanisme pengajuan proposal kegiatan. Terdapat pula organisasi lainnya. Sebagai contoh dewan kepengurusan masjid (DKM) dan pengelola taman bermain anak. Organisasi ini bersifat otonom, mengelola kegiatan dan mencari dana sendiri. Sebagai contoh, pertengahan tahun 1980-an panitia pembangunan masjid dan DKM membentuk panitia pengumpulan dana untuk membiayai pemeliharaan dan renovasi masjid. Sedangkan pengelola kelompok bermain memprakarsai kerja sama dengan berbagai pihak untuk menyediakan fasilitas bermain anak dan menyelenggarakan pendidikan.
Kegiatan sehari-hari penghuni beraneka ragam menurut pekerjaan dan mata pencahariannya. Orang-orang dewasa laki-laki yang telah berkeluarga berada di luar rumah misalnya melakukan kegiatan sebagai pedagang, buruh pabrik, buruh toko, tukang parkir, tukang becak, tukang ojek, menjadi guru di sekolah-sekolah negeri, kegiatan sukarela di organisasi lembaga swadaya masyarakat, menjadi tenaga satuan pengaman (satpam) toko dan gedung. Perempuan dewasa rupanya sama, hanya sebagian yang tinggal di rumah, mengasuh anak, membersihkan rumah, memasak, dan beberapa di antaranya melakukan kegiatan ekonomi di rumah, seperti menjagai warung yang memang cukup banyak ditemukan di dalam kompleks permukiman.
Kegiatan para laki-laki dan perempuan dewasa tapi belum berkeluarga dan berumah tangga sendiri pun beraneka ragam. Di antara mereka ada yang melakukan kegiatan di rumah, ada pula yang punya kegiatan di luar rumah menurut pekerjaan dan mata pencahariannya. Sekira tahun 1970-an, kegiatan prostitusi pernah marak, demikian juga perjudian togel. Lalu apa saja ancaman keamanan yang dipikirkan orang Cicadas saat ini? Pengertian keamanan di kalangan penghuni beraneka ragam. Ada yang melihatnya sama seperti dahulu, yaitu tidak ada kejadian-kejadian kriminal, seperti pencurian, perkelahian, perampok-kan atau perkosaan. Namun ada pula yang melihatnya lebih ke masalah sehari-hari. Rasa aman sama artinya dengan terhindar dari banjir, dapat menyekolahkan anak, dan tidak menjadi pengangguran.***
Ditulis oleh Eka Chandra, staf peneliti AKATIGA Bandung.

Kamis, 03 Februari 2011

TANJUNG BATU (bagian 3_tamat)

Remaja adalah sebuah fase kehidupan yang memiliki peran penting dalam sebuah fase suksesi. Remaja adalah tahapan siklus kehidupan yang sering mempertanyakan keberadaannya, mencari jati dirinya dan senang dengan hal-hal baru.


Liputan kali ini merupakan lanjutan kisah dari tanjung bagian 3 (hmm..udah 2,5 bulan baru mempublish, padahal tulisan ini mungkin sudah berkarat dalam my notes, ketika beres-beres lemari..nah, akhirnya diketik juga) yang akan menceritakan kegiatan jalan remaja dalam sekolah kehidupanku.

Kegiatan jalan remaja 1208 di Berau berlangsung selama satu minggu. Tanjung Batu adalah satu tempat yang diambil menjadi obyek kegiatan remaja. Lingkungan yang bisa mewakili ciri khas kehidupan pesisir. Kegiatan remaja ini di isi dengan workshop, bercerita tentang kehidupan remaja dan merekamnya dalam sebuah video ataupun foto cerita.

Remaja yang jarang interaksi dengan kegiatan-kegiatan seperti training atau workshop dan diskusi kekinian membuat mereka enggan, segan untuk aktif dalam kegiatan. Tingkat kepercayaan diri, pengetahuan tentang media dan elektronik seperti handycam, camera, komputer terbatas, kecuali handphone yang hampir dimiliki remaja di sana. tapi, kekurangan itu tidak menjadi hambatan karena dibalik diri mereka tersimpan keingintahuan untuk mencoba, dan akhirnya..muncullah sebuah cerita dan kreatifitas...REMAJA dan WAKTU LUANG.

Akhir-akhir ini ada beberapa problem yang menyangkut remaja di Tanjung Batu, pertama ini berkaitan dengan akhlak dan kedua ini berkait dengan keilmuan yang ketiga terkait dengan materi. Ketika tidak adanya filter yang menyaring akses informasi yang saat ini begitu mudah dan berkembang pesat, maka tanpa dibarengi akidah..maka apa yang akan terjadi? tunggulah kehancuran. Beberapa minggu lalu tersebar sebuah blue film yang dilakukan oleh remaja disana..Inalillahi wa inalillaihi rojiun...Dan ternyata walau dikatakan waktu itu sempit, tapi perjalanan kehidupan itu masih lapang, begitupula dengan pekerjaan kita yang masih tertunda garapannya...

thanx to Jalan Remaja 1208, Kampung Halaman Yogyakarta dan ComViro Berau.

- the end -



Jumat, 13 November 2009

Ketika Itu...(ini bukan tentang kamu. Tapi tentang aku, dia dan mereka)

Ketika itu..

malam semakin larut

tak ada suara makhluk pun yang terdengar, kecuali gemericik hujan

dan alunan syahdu Al-Ghomidy yang melantunkan syair Cinta

Ketika itu...

malam semakin larut

terdengar sapaan kecil menyapa hati

kawan..malam semakin larut ketika itu

tapi hati ini tidak akan larut...

karena, tidak ada yang akan bisa menggantikan keteguhan hatiku pada CinTa RABB-ku

karena..CINTA itu hanya untuk RABB-ku

Ketika itu...

malam semakin larut

kawan..malam benar-benar telah larut!

Dan semoga kita tidak larut dalam perhiasan hati dan dunia ini..!

Tanjung Redeb 13 November 2009

Aku mencintaimu hanya karena Allah.

Syukron atas segala uluran tangannya Ukhti, Akhi...

Di Balik Layar Sekolah Kehidupanku (bagian 3)

 
Remaja adalah sebuah fase kehidupan yang memiliki peran penting dalam sebuah fase suksesi. Remaja adalah tahapan siklus kehidupan yang sering mempertanyakan keberadaannya, mencari jati dirinya dan senang dengan hal-hal baru.
Liputan kali ini merupakan lanjutan kisah dari tanjung bagian 3 (hmm..udah 2,5 bulan baru mempublish, padahal tulisan ini mungkin sudah berkarat dalam my notes, ketika beres-beres lemari..nah, akhirnya diketik juga) yang akan menceritakan kegiatan jalan remaja dalam sekolah kehidupanku.
Kegiatan jalan remaja 1208 di Berau berlangsung selama satu minggu. Tanjung Batu adalah satu tempat yang diambil menjadi obyek kegiatan remaja. Lingkungan yang bisa mewakili ciri khas kehidupan pesisir. Kegiatan remaja ini di isi dengan workshop, bercerita tentang kehidupan remaja dan merekamnya dalam sebuah video ataupun foto cerita.
Remaja yang jarang interaksi dengan kegiatan-kegiatan seperti training atau workshop dan diskusi kekinian membuat mereka enggan, segan untuk aktif dalam kegiatan. Tingkat kepercayaan diri, pengetahuan tentang media dan elektronik seperti handycam, camera, komputer terbatas, kecuali handphone yang hampir dimiliki remaja di sana. tapi, kekurangan itu tidak menjadi hambatan karena dibalik diri mereka tersimpan keingintahuan untuk mencoba, dan akhirnya..muncullah sebuah cerita dan kreatifitas...REMAJA dan WAKTU LUANG.
Akhir-akhir ini ada beberapa problem yang menyangkut remaja di Tanjung Batu, pertama ini berkaitan dengan akhlak dan kedua ini berkait dengan keilmuan yang ketiga terkait dengan materi. Ketika tidak adanya filter yang menyaring akses informasi yang saat ini begitu mudah dan berkembang pesat, maka tanpa dibarengi akidah..maka apa yang akan terjadi? tunggulah kehancuran. Beberapa minggu lalu tersebar sebuah blue film yang dilakukan oleh remaja disana..Inalillahi wa inalillaihi rojiun...Dan ternyata walau dikatakan waktu itu sempit, tapi perjalanan kehidupan itu masih lapang, begitupula dengan pekerjaan kita yang masih tertunda garapannya...
thanx to Jalan Remaja 1208, Kampung Halaman Yogyakarta dan ComViro Berau.
- the end -

Selasa, 10 November 2009

Di Balik Layar Sekolah Kehidupanku


Remaja adalah sebuah fase kehidupan yang memiliki peran penting dalam sebuah fase suksesi. Remaja adalah tahapan siklus kehidupan yang sering mempertanyakan keberadaannya, mencari jati dirinya dan senang dengan hal-hal baru.
Liputan kali ini merupakan lanjutan kisah dari tanjung bagian 3 (hmm..udah 2,5 bulan baru mempublish, padahal tulisan ini mungkin sudah berkarat dalam my notes, ketika beres-beres lemari..nah, akhirnya diketik juga) yang akan menceritakan kegiatan jalan remaja dalam sekolah kehidupanku.
Kegiatan jalan remaja 1208 di Berau berlangsung selama satu minggu. Tanjung Batu adalah satu tempat yang diambil menjadi obyek kegiatan remaja. Lingkungan yang bisa mewakili ciri khas kehidupan pesisir. Kegiatan remaja ini di isi dengan workshop, bercerita tentang kehidupan remaja dan merekamnya dalam sebuah video ataupun foto cerita.
Remaja yang jarang interaksi dengan kegiatan-kegiatan seperti training atau workshop dan diskusi kekinian membuat mereka enggan, segan untuk aktif dalam kegiatan. Tingkat kepercayaan diri, pengetahuan tentang media dan elektronik seperti handycam, camera, komputer terbatas, kecuali handphone yang hampir dimiliki remaja di sana. tapi, kekurangan itu tidak menjadi hambatan karena dibalik diri mereka tersimpan keingintahuan untuk mencoba, dan akhirnya..muncullah sebuah cerita dan kreatifitas...REMAJA dan WAKTU LUANG.
Akhir-akhir ini ada beberapa problem yang menyangkut remaja di Tanjung Batu, pertama ini berkaitan dengan akhlak dan kedua ini berkait dengan keilmuan yang ketiga terkait dengan materi. Ketika tidak adanya filter yang menyaring akses informasi yang saat ini begitu mudah dan berkembang pesat, maka tanpa dibarengi akidah..maka apa yang akan terjadi? tunggulah kehancuran. Beberapa minggu lalu tersebar sebuah blue film yang dilakukan oleh remaja disana..Inalillahi wa inalillaihi rojiun...Dan ternyata walau dikatakan waktu itu sempit, tapi perjalanan kehidupan itu masih lapang, begitupula dengan pekerjaan kita yang masih tertunda garapannya...


thanx to Jalan Remaja 1208, Kampung Halaman Yogyakarta dan ComViro Berau.


- the end -

Rabu, 29 Juli 2009

KISAH DARI TANJUNG BATU (Bagian2) Mengintip Kisah Remaja di Tanjung Batu


Remaja merupakan bagian dari fase kehidupan masyarakat. Peranannya dalam kehidupan sosial terkadang dianggap sepele oleh fase kehidupan di atasnya. Pada dasarnya, remaja merupakan tonggak regenerasi dalam perubahan sosial, dan remaja memiliki peranan penting untuk kesinambungan kehidupan. Saat ini sekitar 40 juta remaja di Indonesia belum mendapatkan ruang untuk menyampaikan pendapat dan cara pandang di komunitasnya. Energi, idealisme, dan kreatifitas remaja seringkali dilupakan sebagai modal sosial keberlanjutan dan pembangunan dalam komunitas. Padahal dalam waktu 5 tahun ke depan sebagian dari mereka akan segera memasuki usia dimana mereka akan memiliki tanggung jawab baru sebagai orang dewasa dari mulai bekerja, menikah dan berkeluarga.

Di beberapa daerah di Indonesia, komunitas remaja dari kalangan yang berbeda tidak dapat mengakses kualitas pendidikan yang sama. Minimnya sarana dan prasarana di sebuah lembaga pendidikan membuat beberapa remaja kesulitan untuk mengakses informasi pengetahuan. Padahal pendidikan yang berkualitas adalah hak untuk semua warga negara. Adapun diberlakukan pula pola pendidikan “ekonomis” oleh keluarga, komunitas, dan negara kepada remaja yang ditujukan untuk pencapaian status, harta dan kedudukan. Padahal hakikat pendidikan adalah untuk sikap kritis dan mandiri. Sistem pendidikan yang cenderung ”menekan” membuat komunitas remaja tidak terbiasa menghargai hidup dalam keberagaman. Banyaknya beban tugas, baik itu intrakurikuler maupun ekstrakurikuler telah membuat beberapa remaja terbatas dalam pergaulan, adanya segmentasi dan kurangnya waktu luang untuk mengasah kemampuannya sebagai makhluk sosial yang tidak individualis dan bisa mengorganisir diri (bekerja sama) bersama remaja di lingkungan rumah dan masyarakat. Pada saat ini, ruang kebebasan berekspresi untuk remaja lebih di fasilitasi oleh pasar (pemilik modal) daripada oleh negara yang pada akhirnya membuat remaja menjadi konsumtif.

Sekilas Tentang Remaja Tanjung Batu

Kehidupan remaja Tanjung Batu pada dasarnya memiliki kesamaan dengan kehidupan remaja di tempat lainnya di Indonesia, di sisi lain ada yang menarik dengan cerita kehidupan remaja di Tanjung Batu. Hal tersebut bisa dilihat dari aspek lingkungan alam serta sosial mereka. Mayoritas masyarakat Tanjung Batu berasal dari suku Bajau, yaitu sebuah kelompok masyarakat yang mencari penghidupan di laut. Lingkungan alam yang berada di sekitar pesisir laut, membuat masyarakat Tanjung Batu menggantungkan hidupnya pada laut, seperti menjadi penangkap ikan (nelayan), pariwisata; membuka warung makan, menjual aksesoris, dan lainnya. Bahkan kehidupan remaja Tanjung Batu tidak terlepas pula dari kehidupan seputar kelautan. Hal ini diperkuat dengan berdirinya SMK kelautan dan kegiatan olahraga layar di kampung Tanjung Batu. Ruang lingkup keduanya di isi oleh remaja dan anak-anak (yang menjadi atlet olahraga layar adalah anak usia 8 tahun ke atas). Tak dapat dipungkiri jika remaja senang berkumpul bersama teman-teman satu komunitasnya, membentuk kumpulan kegiatan remaja, seperti yang ada di Tanjung Batu. Kegiatan tersebut diantaranya adalah adanya radio komunitas, kegiatan olahraga layar, dan kumpulan anak yang senang nongkrong membentuk kegiatan balap liar, yaitu sebuah ajang kebut-kebutan motor.

Balap liar adalah salah satu tema cerita remaja Tanjung Batu yang diangkat oleh peserta workshop media dalam sebuah diskusi tentang tema kegiatan remaja yang tidak menarik. Mengapa terjadi demikian? Permasalahan mendasar dari remaja yang tinggal di Tanjung Batu adalah terbatasnya informasi pengetahuan, di sisi lain penayangan film ataupun iklan di televisi begitu kuat mempengaruhi remaja Tanjung Batu. Karena remaja merupakan fase mencari jati diri yang selalu ingin tahu dan ingin mencoba hal yang baru, maka lifestyle remaja di perkotaan mempengaruhi kehidupan pergaulan dan konsumerisme remaja Tanjung Batu, seperti adanya balap liar.

Dari segi prasarana dan ruang kreasi untuk remaja, beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat dari kabupaten Berau kadang mengadakan pelatihan yang berkisar tentang kelautan bersama remaja (anak sekolah) ataupun masyarakat. Pemerintah Kabupaten Berau pun ikut mendukung kegiatan anak-anak dan remaja Tanjung Batu yang berkaitan dengan laut, dengan menyediakan fasilitas untuk berlatih layar. Namun, tidak semua anak-anak, remaja ataupun orang tua yang ikut mendukung kegiatan tersebut. Salah satu hal yang menjadi penghambat remaja Tanjung Batu adalah kurangnya inisiatif dari diri sendiri dan kurangnya motivasi untuk menggerakkan kemauan mereka dalam kegiatan. Hal itu pula yang menjadi latar belakang adanya kerusakan pada lingkungan pesisir di Tanjung Batu, salah satunya adalah permasalahan sampah. Permasalahan sampah, kurangnya inisiatif remaja Tanjung Batu untuk mengisi waktu luangnya dengan kegiatan yang positif merupakan isu yang diangkat oleh peserta ”Jalan Remaja 1208” di kabupaten Berau.

-Bersambung-