Sabtu, 20 Juni 2009

PUISI KEHIDUPAN

DALAM DEKAPAN DERMAYU

Burung-burung itu belum datang

Aku jadi tak tahu berita

Sepi!

Kekasih itu apa sudah tiba?

Tapi aku belum berjumpa dengannya

Sepi!

Berada dalam ruang gelap

Ditingkahi nyamuk-nyamuk yang mengitari kepalaku

Sepi!

Semburat cahaya dari balik pintu memberi warna pada hidupku

apakah Kekasih sudah dekat denganku?

Aku merinduinya.

Aku berharap Dia datang membawa seribu prosa cerita tentang cinta, cita, asa

menemaniku mendaki aral hidup

menentang badai

mengarungi lautan dan gunung..

Tasbih..

Tahmid..

Takbir..

menemaniku melangkah, melompat, menerjang..

Kekasihku aku selalu merinduiMu

aku tahu Kau selalu hadir menemaniku..

dalam ruku, sujud..di tiap waktu

Kekasihku aku akan selalu merinduiMu

....

Dermayu, 5 November 2008

HIDUPKU

Satu kata tanpa suara,

Hening.

Dua suara tanpa kata,

Sepi.

Tiga cerita dalam prosa,

Hidup.

Hening...hanyalah hening

Sepi...hanyalah sepi

Tapi hidup tidak hanya hidup,

Hidupku,

Kehidupanku.


PERGI!

Kakiku melangkah

Tubuhku bergetar

Jantungku berdetak

Jiwaku bergemuruh

....

Pergi!

SEBUAH RAHASIA

Sttttt...

Ada sebuah cerita

Cerita rahasia tentang manusia

Apa kau ingin tahu?

Ya, kau pasti ingin tahu

Manusia ini bukan hanya seorang manusia

Ia bukan manusia biasa

Kehidupannya telah mengembara dalam alam pikiran manusia-manusia

Perjuangannya adalah spirit untuk kaumnya

Apa kau tahu siapa dia?

Dia ada dalam alam pikiranmu!

Tentu kau sudah membukanya

Apa kau mengikuti jalan yang dia jalankan?

Apa kau bergerak mengikuti pikiran yang dia pikirkan?

Sejarah berubah, peradaban berubah

Tentu kau mengenalnya.

Ya dia adalah Nabi Muhammad SAW.

Aku merindukannya...

TANJUNG REDEB

Dua sungai mengapitnya

Segah dan Kelay

Terik di kala matahari berada di atas kepala

Langit pun seperti dekat dengan kepala

Kota berawan

Kota Jawa Timur

Banyak pendatang dari Jawa Timur

Kemana orang-orang Banua?

Lama lawan baru

Yang lama hilang

Yang baru datang

Mengapa?

Inikah proses dari kehidupan?

Dinamis

Tapi mengapa harus hilang

Bukankah tradisional tak harus melawan modern?

Mengapa?

Ya mengapa?

Apa kau tahu jawabannya?!

SENJA DI TEPIAN

Matahari dengan malu-malu menutup diri dibalik awan

Secercah lembayung tanda kehadirannya

kepak dua elang mengitari langit senja

Kumpulan awan putih mencoba memayunginya

Kapal bertambat pada dermaga

Sungai hening tak berarus

Sepuluh tenda merapatkan barisan di tepian sungai segah

Ketingting,kapal barang,Perahu motor,awak kapal, pedagang,sepeda motor bersahutan di tepian

Senja pun berganti malam

Terang berganti gelap

Kunang-kunang pun enggan datang

Cahyanya terganti lampu gedung yang berdiri pongah memandang tandusnya tepian

Tanjung, 24 Mei 2009

HUJAN

Ketika bintang datang

Malam menutup mataku

Airmata mengundang awan

Langit menagis

Bintang pun enggan datang...

Tanjung, 29 Mei 2009

BERAU DIKALA KEGELAPAN

Kota kecil ini tak miskin!

Ia kaya dengan kekayaan alam batu bara, perkebunan, kelautan

sekali lagi, Kota kecil ini tak miskin!

Ia hanya dimiskinkan!

Kota kecil ini bukan tak punya keberanian

Ia hanya dibutakan

Kota kecil ini tak mati!

tapi hanya dimatikan.

Kota kecil ini sedang mencoba berdiri

Kota kecil ini sudah mencoba melangkah

Kota kecil ini hanya sedang mencari eksistensinya

Dia ada, dia berwujud!

kota kecil ini belum mati!

Berau hanya sedang berada dalam kegelapan

karena listrik hilang eksistensinya

karena pemerintah hilang nuraninya

Kota kecil ini masih hidup!

KETIKA...

Aku diberitahu angin

Bahwa hujan tak akan datang menyirami tanah

Aku diberitahu tanah

Bahwa hujan sudah lama tak memeluknya

Aku diberitahu awan

Bahwa laut enggan memberi uap

Aku diberitahu laut

Bahwa matahari masih memberi sengatan sinarnya

Aku tak diberitau matahari mengapa ia begitu panas

Angin memberitahuku

Bahwa kaumku mengundang angin, tanah, hujan, lautan dan matahari

Mereka datang

Mereka bergerak

Ketika itu kaumku hanya berkata

“seandainya...”

KALA SENJA

Aku dengar suara...

Dari kejauhan

Bunyi gamelan yang mengalun

Menggerakkan angin,

Menerbangkan dedaunan hingga pecah

Membuyarkan lamunan kepik dan kupu-kupu yang mengisap madu

Membangunkanku bahwa waktu akan berganti.

CAKE HOUSE

Ada sebuah rumah

yang berandanya berlapis coklat

Atapnya bertabur cream merah

Dinding dipoles white cream

Dikelilingi pohon-pohon kecil

Hijau, biru, kuning

Ada sebuah ruang

Yang di atasnya berhiaskan lilin

Lantai dengan permadani keju

Kursi, meja berbahan batang coklat

Ada sebuah ruang di dalam rumah

Itulah cake house

Indah, manis terasa...

Tanjung, 2 Juni 2009

Jumat, 19 Juni 2009

MENGAYAU Sebuah Tradisi Dayak


Masyarakat dan kebudayaan adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Masyarakat merupakan otak yang menciptakan ide/gagasan sehingga kemudian membentuk pola perilaku, kebiasaan, dan menjadi kebudayaan. Saling berkesinambungan, begitulah sifatnya. Mengkaji tentang kebudayaan masyarakat merupakan pembelajaran untuk kehidupan selanjutnya. Apalagi, individu manusia dilahirkan dengan sebuah tanggung jawab untuk menjadi khalifah di muka bumi, dalam arti kata menjadi pemimpin, pengawas, pengelola, pemelihara bumi dan seluruh isinya. Pola perilaku manusia pun terbagi-bagi menjadi beberapa sistem kehidupan.


Koentjaraningrat membagi tujuh unsur kebudayaan yang meliputi aspek material maupun nonmaterial. Aspek tersebut, antara lain:

1) Sistem religi dan keagamaan,

2) Sistem dan organisasi kemasyarakatan,

3) Sistem pengetahuan,

4) Bahasa,

5) Sistem kesenian,

6) Sistem mata pencaharian hidup,

7) Sistem teknologi dan peralatan.

Mengayau atau memenggal adalah sebuah tradisi yang kerap dilakukan oleh komunitas dayak pada masa lalu. Tapi, pada saat ini pun ada beberapa komunitas dayak yang masih melakukan tradisi mengayau.

Apa yang menjadi latar belakang tradisi mengayau dilakukan oleh dayak?

Untuk mengetahui kebiasaan tersebut sehingga kemudian berkembang menjadi tradisi, kita bisa menelusiri dari sejarah orang-orang dayak. Sejarah orang-orang dayak di Kalimantan ditandai oleh migrasi besar-besaran, seperti peperangan, pengayauan (pemenggalan), penaklukan, yang mana hal itu terjadi selama hampir tiga abad (dalam Surya di Timur Laut Kalimantan; YDBCC dan yayasan Kalbu).

Ada beberapa faktor yang mengakibatkan komunitas dayak melakukan migrasi besar-besaran, diantaranya;

1. Perubahan alam, seperti keberadaan hutan sebagai sumber pangan untuk kebutuhan hidup mereka yang mengalami kerusakan akibat faktor iklim dan beberapanya campur tangan manusia, seperti pembukaan lahan perkebunan, logging, dan pertambangan (faktor kerusakan lahan akibat perkebunan, logging dan pertambangan terjadi ketika bangsa kolonial memasuki pedalaman Kalimantan).

2. Adanya desakan akan kebutuhan hidup survive mengakibatkan kebiasaan komunitas dayak yang menjalankan hidup nomaden semakin meluas.

3. Kebutuhan untuk survive juga mendorong komunitas dayak untuk membangun ketahanan hidup dengan melakukan peperangan, menguasai kelompok suku lainnya untuk memperluas lahan, menaklukan kelompok suku dayak lainnya, dan untuk regenerasi.


Pada dasarnya, dayak tidak mengenal agama_kepercayaan mereka bukanlah pada monoteisme. Pandangan terhadap dunia (world view), hukum, kepercayaan, hubungan dengan masyarakat dan kebiasaan lain merupakan tradisi yang kemudian menjadi way of life mereka.

Suku bangsa Dayak asli merupakan penganut animisme yang disebut kaharingan diambil dari istilah danum kaharingan yang artinya air kehidupan. Mereka percaya kepada roh-roh (ngajum ganan) yang menempati tiang rumah, hutan, pohon besar dan air. Roh nenek moyang (ngaju liau) merupakan makhluk halus terpenting dalam kehidupan masyakarat asli Dayak.


Mengayau dilakukan atas dasar kepercayaan. Tapi, seiring dengan terbukanya akses jalan dan perubahan alam, keberadaan tradisi mereka tiadak luput dari pengarauh eksternal hingga terjadilah perubahan sosial dalam kehidupan mereka, termasuk cara pandang terhadap kepercayaan (tradisi_world view).


Pengayauan memiliki latar belakang alasan, menurut pandangan religius orang dayak, jiwa atau daya hidup manusia tinggal di dalam kepala manusia. Kepala yang dikayau (dipenggal) adalah benda magis, yang bersifat religius untuk menguatkan kehidupannya dan orang lain. Kepala korban pengayauan dikumpulkan dari berbagai umur. Kepala-kepala yang telah dikayau diperlukan untuk upacara adat, untuk membersihkan dan untuk memperkokoh desa. Terkadang, para pemuda dari suku dayak melakukan pengayauan untuk membuktikan keberanian pada calon pengantin wanita.


Seiring dengan perubahan sosial, terutama ketika bangsa kolonial mulai memasuki pedalaman Kalimantan, kebiasaan mengayau berkurang. Pada masa itu, kolonial Belanda dan Inggris melakukan patroli militer yang kemudian membawa orang yang telah mengayau. Selain itu, kedatangan orang luar yang membawa misi menyebarkan agama, turut juga mempengaruhi kebiasaan orang-orang dayak untuk tidak melakukan pengayauan. Apalagi mengayau kepala manusia dianggap sebagai perbuatan yang tidak berperikemanusiaan, melanggar norma dan nilai agama. Tradisi mengayau kepala manusia untuk sesaji bagi upacara adat diganti dengan kepala kerbau.


Literature :

Yayasan Dharma Bhakti Berau Coal&Yayasan KALBU. Surya di Timur Kalimantan; sebuah panduan perjalanan.

LISTRIK-KU...

Listrik mati = air mati = kota mati

Pernyataan di atas merupakan sebuah bentuk aksi protes yang di suarakan oleh kelompok mahasiswa dari tiga Sekolah Tinggi di sebuah kota kecil di Borneo. Pernyataan itu pula yang kemudian mengusik hatiku dan mendorong pikiran melalui tanganku untuk menorehkan sebentuk kata lewat tulisan.


Dari sebuah fenomena, kurasakan kegelisahan. Kulukis kata dalam sebuah cerita...


Kawan..apa arti listrik bagimu? Bagi masyarakat urban, listrik sangat berperan penting bagi sendi kehidupannya. Konon, listrik tak hanya berfungsi sebagai penerang di kala kegelapan, ia juga menjadi faktor penting bagi kehidupan ekonomi. Tapi...ternyata tidak hanya sebatas itu saja ada sendi kehidupan lainnya di dalamnya, seperti politik..Hmmm...


Kawan..izinkan aku membawa pikiranmu ke sebuah kota kecil di belahan Borneo, tepatnya di Tanjung. Di sebuah kota kecil ini pula ku bawa pikiranmu untuk membuat sebuah pilihan..membuka kepekaan bahwa ternyata ada kehidupan yang belum kita sentuh, bahwa ternyata ada kehidupan yang kurang lebih baik dari kehidupan kita. Dan kita harus memilih. Karena hidup adalah pilihan. Ada hitam, ada putih. Ada jalan berkelok, ada jalan landai. Ada nasi, ada bubur. Ada sepeda, ada motor. Ada Umar Ibn Khathab, ada abu Jahal. Ada aku, ada kamu..-teu langkung kantun dipilih – terserah silakan memilih. Bukankah kita sendiri yang merasakan di tempat mana kita merasa nyaman? Karena semua sendi kehidupan tak ada yang tak baik. Ada pembelajaran, ada hikmah.


Listrik..aku baru menyadari bahwa ia begitu penting - bahwa aku amat tergantung padanya - bahwa aku merasa rindu dan kehilangan ia jika tak ada. Hmmm..


Selama hidupku bermukim di sebuah perkotaan, baru kali ini aku merasakan listrik hilang selama 30jam - hidup dengannya hanya 6jam. Malah saat ini, ia hidup hanya 2jam! Tak bisa di prediksi jam berapa ia akan menerangi hidupku. Listrik PLN mati, otomatis air PDAM mati. Jadi, apa kita juga mau ikut-ikutan mati?! Apa yang kamu rasakan dan akan lakukan jika hidup di sebuah perkampungan tanpa listrik? Dan apa yang kamu rasakan dan lakukan jika hidup di sebuah perkotaan yang listriknya byar-pet? Tentu kamu punya pilihan.


Masyarakat di Tanjung sudah terbiasa merasakan kehidupan dimana terjadi pemadaman listrik hampir tiap tahun. Apa respon mereka? Mengeluh? Tentu, tapi hanya sebatas itu dan mereka menerimanya sebagai sebuah konsekuensi hidup di sebuah tempat dimana pembangunan antara pemerintah pusat dan daerah mengalami ketimpangan-tak seimbang. Tapi, jum’at 29 mei 2009 terjadi momen yang membangkitkan respon masyarakat. Ya, sekelompok mahasiswa dari tiga sekolah tinggi di kota kecil itu melakukan aksi turun ke jalan memprotes PLN yang melakukan pemadaman listrik diluar batas kewajaran. Awalnya pemadaman listrik oleh PLN hanya 8-10jam bergilir di tiap wilayah di kota itu. Tapi kenyatannya menjadi 24jam,30jam bahkan ada yang sampai 2hari 2malam! Lalu bagaimana dengan usaha-usaha kecil seperti fotokopi, warnet, dsb? Katanya pemadaman listrik akan berlangsung pe 2bulan (wuaduuh.). Selama 2bulan pakai genset? Lalu bagaimana dengan orang - yang bagi mereka bisa makan saja sudah alhamdulillah, dan untuk beli genset bahkan beli bahan bakarnya tiap hari? Tentu terlalu berat. Dan mereka harus memilih.


Kata PLN, “listrik dimatikan untuk menjaga peralatan..” lalu kenapa harus tiap tahun terjadi pemadaman listrik? Bukankah ada biaya operasional untuk melakukan perawatan? Dengar-dengar ada selentingan bahwa pengusaha meminta jatah listrik lebih untuk produksi perusahaan. Karena itu jatah listrik untuk rumah tangga diambil, jadi sering byar-pet.

Bagaimana pemerintah menyikapi masalah listrik PLN? Dalam sebuah TV kabel, pemerintah daerah menayangkan diskusi langsung untuk membicarakan persoalan listrik di kotanya. Tapi, pada kenyataannya pemadaman listrik masih tetap berlangsung hingga saat ini- malahan tak bisa diprediksi. Pagi ini saja listrik nyala cuma 2jam, kemudian mati-entah jam berapa akan hidup kembali.


Masyarakat tak berani protes karena tak terbiasa dengan budaya protes. Mungkin juga ada rasa takut. Mahasiswa pun baru kali ini melakukan aksi protes turun ke jalan, karena mereka adalah wakil kaum intelektual di kota yang berperan penting untuk menyuarakan aspirasi masyarakat dan perkembangan kota. Nah, mulailah dijalankan untuk berani memprotes tindakan oknum penguasa lalim yang menginjak hak masyarakat. Tapi, pilihan untuk berani protes jangan sampai hanya sebatas wacana/isu, gali substansinya! Misalnya, Mengapa PLN memilih mengambil tindakan pemadaman listrik tiap tahun? Bukankah itu merugikan konsumen? Jika memang ada kerusakan, mengapa tidak lebih baik melakukan perawatan secara rutin-bukankah itu lebih baik untuk konsumen-bahkan PLN sendiri? Pada dasarnya, keputusan yang mereka ambil memiliki alasannya, tapi tentu ada konsekuensinya. Kemudian, Mengapa masyarakat hanya memilih diam dan menerima perlakuan PLN? Mengapa akhirnya mahasiswa baru berani unjuk gigi-turun ke jalan menyambung aspirasi masyarakat kepada PLN- Pemerintah?


Kawan, Silakan tentukan pilihannya..karena jawabannya ada dalam kepala anda...


Dan ini bukan persoalan sepele, karena hal tersebut menyangkut hajat hidup orang banyak-keberlangsungan anak-cucu kita di planet bumi ini.


Tanjung, 3 Juni 2009

(Dalam kegelapan)