Listrik mati = air mati = kota mati
Pernyataan di atas merupakan sebuah bentuk aksi protes yang di suarakan oleh kelompok mahasiswa dari tiga Sekolah Tinggi di sebuah kota kecil di Borneo. Pernyataan itu pula yang kemudian mengusik hatiku dan mendorong pikiran melalui tanganku untuk menorehkan sebentuk kata lewat tulisan.
Dari sebuah fenomena, kurasakan kegelisahan. Kulukis kata dalam sebuah cerita...
Kawan..apa arti listrik bagimu? Bagi masyarakat urban, listrik sangat berperan penting bagi sendi kehidupannya. Konon, listrik tak hanya berfungsi sebagai penerang di kala kegelapan, ia juga menjadi faktor penting bagi kehidupan ekonomi. Tapi...ternyata tidak hanya sebatas itu saja ada sendi kehidupan lainnya di dalamnya, seperti politik..Hmmm...
Kawan..izinkan aku membawa pikiranmu ke sebuah kota kecil di belahan Borneo, tepatnya di Tanjung. Di sebuah kota kecil ini pula ku bawa pikiranmu untuk membuat sebuah pilihan..membuka kepekaan bahwa ternyata ada kehidupan yang belum kita sentuh, bahwa ternyata ada kehidupan yang kurang lebih baik dari kehidupan kita. Dan kita harus memilih. Karena hidup adalah pilihan. Ada hitam, ada putih. Ada jalan berkelok, ada jalan landai. Ada nasi, ada bubur. Ada sepeda, ada motor. Ada Umar Ibn Khathab, ada abu Jahal. Ada aku, ada kamu..-teu langkung kantun dipilih – terserah silakan memilih. Bukankah kita sendiri yang merasakan di tempat mana kita merasa nyaman? Karena semua sendi kehidupan tak ada yang tak baik. Ada pembelajaran, ada hikmah.
Listrik..aku baru menyadari bahwa ia begitu penting - bahwa aku amat tergantung padanya - bahwa aku merasa rindu dan kehilangan ia jika tak ada. Hmmm..
Selama hidupku bermukim di sebuah perkotaan, baru kali ini aku merasakan listrik hilang selama 30jam - hidup dengannya hanya 6jam. Malah saat ini, ia hidup hanya 2jam! Tak bisa di prediksi jam berapa ia akan menerangi hidupku. Listrik PLN mati, otomatis air PDAM mati. Jadi, apa kita juga mau ikut-ikutan mati?! Apa yang kamu rasakan dan akan lakukan jika hidup di sebuah perkampungan tanpa listrik? Dan apa yang kamu rasakan dan lakukan jika hidup di sebuah perkotaan yang listriknya byar-pet? Tentu kamu punya pilihan.
Masyarakat di Tanjung sudah terbiasa merasakan kehidupan dimana terjadi pemadaman listrik hampir tiap tahun. Apa respon mereka? Mengeluh? Tentu, tapi hanya sebatas itu dan mereka menerimanya sebagai sebuah konsekuensi hidup di sebuah tempat dimana pembangunan antara pemerintah pusat dan daerah mengalami ketimpangan-tak seimbang. Tapi, jum’at 29 mei 2009 terjadi momen yang membangkitkan respon masyarakat. Ya, sekelompok mahasiswa dari tiga sekolah tinggi di
Kata PLN, “listrik dimatikan untuk menjaga peralatan..” lalu kenapa harus tiap tahun terjadi pemadaman listrik? Bukankah ada biaya operasional untuk melakukan perawatan? Dengar-dengar ada selentingan bahwa pengusaha meminta jatah listrik lebih untuk produksi perusahaan. Karena itu jatah listrik untuk rumah tangga diambil, jadi sering byar-pet.
Bagaimana pemerintah menyikapi masalah listrik PLN? Dalam sebuah TV kabel, pemerintah daerah menayangkan diskusi langsung untuk membicarakan persoalan listrik di kotanya. Tapi, pada kenyataannya pemadaman listrik masih tetap berlangsung hingga saat ini- malahan tak bisa diprediksi. Pagi ini saja listrik nyala cuma 2jam, kemudian mati-entah jam berapa akan hidup kembali.
Masyarakat tak berani protes karena tak terbiasa dengan budaya protes. Mungkin juga ada rasa takut. Mahasiswa pun baru kali ini melakukan aksi protes turun ke jalan, karena mereka adalah wakil kaum intelektual di kota yang berperan penting untuk menyuarakan aspirasi masyarakat dan perkembangan kota. Nah, mulailah dijalankan untuk berani memprotes tindakan oknum penguasa lalim yang menginjak hak masyarakat. Tapi, pilihan untuk berani protes jangan sampai hanya sebatas wacana/isu, gali substansinya! Misalnya, Mengapa PLN memilih mengambil tindakan pemadaman listrik tiap tahun? Bukankah itu merugikan konsumen? Jika memang ada kerusakan, mengapa tidak lebih baik melakukan perawatan secara rutin-bukankah itu lebih baik untuk konsumen-bahkan PLN sendiri? Pada dasarnya, keputusan yang mereka ambil memiliki alasannya, tapi tentu ada konsekuensinya. Kemudian, Mengapa masyarakat hanya memilih diam dan menerima perlakuan PLN? Mengapa akhirnya mahasiswa baru berani unjuk gigi-turun ke jalan menyambung aspirasi masyarakat kepada PLN- Pemerintah?
Kawan, Silakan tentukan pilihannya..karena jawabannya ada dalam kepala anda...
Dan ini bukan persoalan sepele, karena hal tersebut menyangkut hajat hidup orang banyak-keberlangsungan anak-cucu kita di planet bumi ini.
Tanjung, 3 Juni 2009
(Dalam kegelapan)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar