Minggu, 13 Mei 2012

Hanya satu kata : “LAWAN!”


Pagi di stasiun kereta Rancaekek, tidak menghalau orang-orang yang bergerak mencari penghidupan. Kereta belum juga tiba Orang-orang mengantri di depan loket kereta dalam kota dan beberapa menuju keluar kota. Kehadiranku hanyalah satu dari beberapa manusia yang bergerak. Tidak ada yang tahu siapa aku. Aku tidak mengenal mereka dan mereka tidak mengenal keberadaanku. Sibuk dengan pikiran masing-masing, bergerak memenuhi tujuan kehidupan. Kereta ekonomi Pasundan jurusan Bandung-Surabaya yang mengantarkanku menuju tujuan alur kehidupan. Kereta pun sesak, dari kelengangan menjadi keramaian, mungkin itu yang dirasakan oleh beberapa orang. Masinis melajukan kereta dengan kehati-hatian sesuai prosedur perhubungan. Namun orang-orang seperti tidak mengenal- atau mungkin tidak mau kompromi dengan sebuah sistem, karena kenyataan jauh dari utopia. Thesa-thesa yang membentuk sintesa tidak memberikan ruang kecukupan bagi kotak-kotak pengharapan manusia itu Pragmatis. Karena kenyataannya mereka yang membentuk sistem tidak pula ikut menjaga sistem. Tapi menghancurkannya, perlahan-lahan. 

Kereta tetap bergerak, memenuhi kecukupan rasa laparnya. Bayi-bayi menangis kegerahan. Penjual pecel, es, aksesoris, pengamen hilir mudik berteriak mencoba menghibur penumpang yang perutnya melilit rasa lapar, yang peluhnya bermandikan keringat. 

Ya, itulah potret sebagian kehidupan yang bisa kurekam. Menurut mereka gambaran itu adalah rutinitas yang sudah biasa dijalani. Banyak orang yang sudah tahu dan banyak orang yang menutup mata dengan keadaan tersebut. Lalu apa yang bisa kita lakukan? Seperti kisah kodok yang orang tua dulu atau bahkan mungkin ada orang tua sekarang yang masih memberikan pendidikan melalui kisah kodok kepada anak-anaknya, yaitu; ada seorang anak yang baru belajar berjalan, saking senangnya dia berjalan tanpa melihat sekitar dan jatuhlah anak tersebut, si ibu atau bapak pun berkata “o..ada kodok loncat yaa, nakal kodok itu!” Ya, mencari kambing hitam (tidak pernah mencari kambing putih atau coklat..hohooo). Artinya, seringkali kita mengkritik atau marah-marah kepada orang atau lembaga yang terkait dengan keadaan atau permasalahan yang terjadi tanpa memberikan solusi yang berarti. Bukan hanya kata yang diperlukan, karena orang-orang pendengarannya kurang baik. 

Hanya satu kata: Lawan. Lawan dengan kebenaran. Melawan dengan menjelaskan kondisi yang sedang terjadi kepada orang yang belum paham dan belum tahu. Memberikan pendidikan tanpa menutup kesalahan yang telah dilakukan oleh orang yang kita didik. Karena itu membangun pendidikan karakter di usia dini di sekolah maupun di rumah akan sangat membantu langkah kehidupan seperti yang digambarkan di tulisan awal. Pendidikan karakter yang utama dilakukan oleh orang tua, bukan hanya pendidik di sekolah. Tapi, keadaan saat ini hampir sebagian besar orang tua lebih mempercayakan kepada sekolah, dengan alasan orang tua sibuk dengan pekerjaannya. Padahal yang dibutuhkan oleh anak adalah perhatian orang tua, bukan sekedar materi. Walaupun begitu, kerjasama antara pihak pendidik di sekolah dan orang tua sebagai pemilik anak didik harus dikuatkan. Ya, itulah kunci keberhasilannya.    
******