Pagi di stasiun kereta Rancaekek,
tidak menghalau orang-orang yang bergerak mencari penghidupan. Kereta belum
juga tiba Orang-orang mengantri di depan loket kereta dalam kota dan beberapa
menuju keluar kota. Kehadiranku hanyalah satu dari beberapa manusia yang
bergerak. Tidak ada yang tahu siapa aku. Aku tidak mengenal mereka dan mereka
tidak mengenal keberadaanku. Sibuk dengan pikiran masing-masing, bergerak
memenuhi tujuan kehidupan. Kereta ekonomi Pasundan jurusan Bandung-Surabaya
yang mengantarkanku menuju tujuan alur kehidupan. Kereta pun sesak, dari
kelengangan menjadi keramaian, mungkin itu yang dirasakan oleh beberapa orang.
Masinis melajukan kereta dengan kehati-hatian sesuai prosedur perhubungan.
Namun orang-orang seperti tidak mengenal- atau mungkin tidak mau kompromi
dengan sebuah sistem, karena kenyataan jauh dari utopia. Thesa-thesa yang
membentuk sintesa tidak memberikan ruang kecukupan bagi kotak-kotak pengharapan
manusia itu Pragmatis. Karena kenyataannya mereka yang membentuk sistem tidak
pula ikut menjaga sistem. Tapi menghancurkannya, perlahan-lahan.
Kereta tetap bergerak, memenuhi
kecukupan rasa laparnya. Bayi-bayi menangis kegerahan. Penjual pecel, es,
aksesoris, pengamen hilir mudik berteriak mencoba menghibur penumpang yang
perutnya melilit rasa lapar, yang peluhnya bermandikan keringat.
Ya, itulah potret sebagian
kehidupan yang bisa kurekam. Menurut mereka gambaran itu adalah rutinitas yang
sudah biasa dijalani. Banyak orang yang sudah tahu dan banyak orang yang
menutup mata dengan keadaan tersebut. Lalu apa yang bisa kita lakukan? Seperti kisah
kodok yang orang tua dulu atau bahkan mungkin ada orang tua sekarang yang masih
memberikan pendidikan melalui kisah kodok kepada anak-anaknya, yaitu; ada
seorang anak yang baru belajar berjalan, saking senangnya dia berjalan tanpa
melihat sekitar dan jatuhlah anak tersebut, si ibu atau bapak pun berkata “o..ada
kodok loncat yaa, nakal kodok itu!” Ya, mencari kambing hitam (tidak pernah
mencari kambing putih atau coklat..hohooo). Artinya, seringkali kita mengkritik
atau marah-marah kepada orang atau lembaga yang terkait dengan keadaan atau
permasalahan yang terjadi tanpa memberikan solusi yang berarti. Bukan hanya
kata yang diperlukan, karena orang-orang pendengarannya kurang baik.
Hanya satu kata: Lawan. Lawan dengan
kebenaran. Melawan dengan menjelaskan kondisi yang sedang terjadi kepada orang
yang belum paham dan belum tahu. Memberikan pendidikan tanpa menutup kesalahan
yang telah dilakukan oleh orang yang kita didik. Karena itu membangun pendidikan
karakter di usia dini di sekolah maupun di rumah akan sangat membantu langkah
kehidupan seperti yang digambarkan di tulisan awal. Pendidikan karakter yang
utama dilakukan oleh orang tua, bukan hanya pendidik di sekolah. Tapi, keadaan
saat ini hampir sebagian besar orang tua lebih mempercayakan kepada sekolah,
dengan alasan orang tua sibuk dengan pekerjaannya. Padahal yang dibutuhkan oleh
anak adalah perhatian orang tua, bukan sekedar materi. Walaupun begitu, kerjasama
antara pihak pendidik di sekolah dan orang tua sebagai pemilik anak didik harus dikuatkan. Ya, itulah kunci
keberhasilannya.
******
Tidak ada komentar:
Posting Komentar