Jumat, 13 November 2009

Ketika Itu...(ini bukan tentang kamu. Tapi tentang aku, dia dan mereka)

Ketika itu..

malam semakin larut

tak ada suara makhluk pun yang terdengar, kecuali gemericik hujan

dan alunan syahdu Al-Ghomidy yang melantunkan syair Cinta

Ketika itu...

malam semakin larut

terdengar sapaan kecil menyapa hati

kawan..malam semakin larut ketika itu

tapi hati ini tidak akan larut...

karena, tidak ada yang akan bisa menggantikan keteguhan hatiku pada CinTa RABB-ku

karena..CINTA itu hanya untuk RABB-ku

Ketika itu...

malam semakin larut

kawan..malam benar-benar telah larut!

Dan semoga kita tidak larut dalam perhiasan hati dan dunia ini..!

Tanjung Redeb 13 November 2009

Aku mencintaimu hanya karena Allah.

Syukron atas segala uluran tangannya Ukhti, Akhi...

Di Balik Layar Sekolah Kehidupanku (bagian 3)

 
Remaja adalah sebuah fase kehidupan yang memiliki peran penting dalam sebuah fase suksesi. Remaja adalah tahapan siklus kehidupan yang sering mempertanyakan keberadaannya, mencari jati dirinya dan senang dengan hal-hal baru.
Liputan kali ini merupakan lanjutan kisah dari tanjung bagian 3 (hmm..udah 2,5 bulan baru mempublish, padahal tulisan ini mungkin sudah berkarat dalam my notes, ketika beres-beres lemari..nah, akhirnya diketik juga) yang akan menceritakan kegiatan jalan remaja dalam sekolah kehidupanku.
Kegiatan jalan remaja 1208 di Berau berlangsung selama satu minggu. Tanjung Batu adalah satu tempat yang diambil menjadi obyek kegiatan remaja. Lingkungan yang bisa mewakili ciri khas kehidupan pesisir. Kegiatan remaja ini di isi dengan workshop, bercerita tentang kehidupan remaja dan merekamnya dalam sebuah video ataupun foto cerita.
Remaja yang jarang interaksi dengan kegiatan-kegiatan seperti training atau workshop dan diskusi kekinian membuat mereka enggan, segan untuk aktif dalam kegiatan. Tingkat kepercayaan diri, pengetahuan tentang media dan elektronik seperti handycam, camera, komputer terbatas, kecuali handphone yang hampir dimiliki remaja di sana. tapi, kekurangan itu tidak menjadi hambatan karena dibalik diri mereka tersimpan keingintahuan untuk mencoba, dan akhirnya..muncullah sebuah cerita dan kreatifitas...REMAJA dan WAKTU LUANG.
Akhir-akhir ini ada beberapa problem yang menyangkut remaja di Tanjung Batu, pertama ini berkaitan dengan akhlak dan kedua ini berkait dengan keilmuan yang ketiga terkait dengan materi. Ketika tidak adanya filter yang menyaring akses informasi yang saat ini begitu mudah dan berkembang pesat, maka tanpa dibarengi akidah..maka apa yang akan terjadi? tunggulah kehancuran. Beberapa minggu lalu tersebar sebuah blue film yang dilakukan oleh remaja disana..Inalillahi wa inalillaihi rojiun...Dan ternyata walau dikatakan waktu itu sempit, tapi perjalanan kehidupan itu masih lapang, begitupula dengan pekerjaan kita yang masih tertunda garapannya...
thanx to Jalan Remaja 1208, Kampung Halaman Yogyakarta dan ComViro Berau.
- the end -

Selasa, 10 November 2009

Di Balik Layar Sekolah Kehidupanku


Remaja adalah sebuah fase kehidupan yang memiliki peran penting dalam sebuah fase suksesi. Remaja adalah tahapan siklus kehidupan yang sering mempertanyakan keberadaannya, mencari jati dirinya dan senang dengan hal-hal baru.
Liputan kali ini merupakan lanjutan kisah dari tanjung bagian 3 (hmm..udah 2,5 bulan baru mempublish, padahal tulisan ini mungkin sudah berkarat dalam my notes, ketika beres-beres lemari..nah, akhirnya diketik juga) yang akan menceritakan kegiatan jalan remaja dalam sekolah kehidupanku.
Kegiatan jalan remaja 1208 di Berau berlangsung selama satu minggu. Tanjung Batu adalah satu tempat yang diambil menjadi obyek kegiatan remaja. Lingkungan yang bisa mewakili ciri khas kehidupan pesisir. Kegiatan remaja ini di isi dengan workshop, bercerita tentang kehidupan remaja dan merekamnya dalam sebuah video ataupun foto cerita.
Remaja yang jarang interaksi dengan kegiatan-kegiatan seperti training atau workshop dan diskusi kekinian membuat mereka enggan, segan untuk aktif dalam kegiatan. Tingkat kepercayaan diri, pengetahuan tentang media dan elektronik seperti handycam, camera, komputer terbatas, kecuali handphone yang hampir dimiliki remaja di sana. tapi, kekurangan itu tidak menjadi hambatan karena dibalik diri mereka tersimpan keingintahuan untuk mencoba, dan akhirnya..muncullah sebuah cerita dan kreatifitas...REMAJA dan WAKTU LUANG.
Akhir-akhir ini ada beberapa problem yang menyangkut remaja di Tanjung Batu, pertama ini berkaitan dengan akhlak dan kedua ini berkait dengan keilmuan yang ketiga terkait dengan materi. Ketika tidak adanya filter yang menyaring akses informasi yang saat ini begitu mudah dan berkembang pesat, maka tanpa dibarengi akidah..maka apa yang akan terjadi? tunggulah kehancuran. Beberapa minggu lalu tersebar sebuah blue film yang dilakukan oleh remaja disana..Inalillahi wa inalillaihi rojiun...Dan ternyata walau dikatakan waktu itu sempit, tapi perjalanan kehidupan itu masih lapang, begitupula dengan pekerjaan kita yang masih tertunda garapannya...


thanx to Jalan Remaja 1208, Kampung Halaman Yogyakarta dan ComViro Berau.


- the end -

Rabu, 29 Juli 2009

KISAH DARI TANJUNG BATU (Bagian2) Mengintip Kisah Remaja di Tanjung Batu


Remaja merupakan bagian dari fase kehidupan masyarakat. Peranannya dalam kehidupan sosial terkadang dianggap sepele oleh fase kehidupan di atasnya. Pada dasarnya, remaja merupakan tonggak regenerasi dalam perubahan sosial, dan remaja memiliki peranan penting untuk kesinambungan kehidupan. Saat ini sekitar 40 juta remaja di Indonesia belum mendapatkan ruang untuk menyampaikan pendapat dan cara pandang di komunitasnya. Energi, idealisme, dan kreatifitas remaja seringkali dilupakan sebagai modal sosial keberlanjutan dan pembangunan dalam komunitas. Padahal dalam waktu 5 tahun ke depan sebagian dari mereka akan segera memasuki usia dimana mereka akan memiliki tanggung jawab baru sebagai orang dewasa dari mulai bekerja, menikah dan berkeluarga.

Di beberapa daerah di Indonesia, komunitas remaja dari kalangan yang berbeda tidak dapat mengakses kualitas pendidikan yang sama. Minimnya sarana dan prasarana di sebuah lembaga pendidikan membuat beberapa remaja kesulitan untuk mengakses informasi pengetahuan. Padahal pendidikan yang berkualitas adalah hak untuk semua warga negara. Adapun diberlakukan pula pola pendidikan “ekonomis” oleh keluarga, komunitas, dan negara kepada remaja yang ditujukan untuk pencapaian status, harta dan kedudukan. Padahal hakikat pendidikan adalah untuk sikap kritis dan mandiri. Sistem pendidikan yang cenderung ”menekan” membuat komunitas remaja tidak terbiasa menghargai hidup dalam keberagaman. Banyaknya beban tugas, baik itu intrakurikuler maupun ekstrakurikuler telah membuat beberapa remaja terbatas dalam pergaulan, adanya segmentasi dan kurangnya waktu luang untuk mengasah kemampuannya sebagai makhluk sosial yang tidak individualis dan bisa mengorganisir diri (bekerja sama) bersama remaja di lingkungan rumah dan masyarakat. Pada saat ini, ruang kebebasan berekspresi untuk remaja lebih di fasilitasi oleh pasar (pemilik modal) daripada oleh negara yang pada akhirnya membuat remaja menjadi konsumtif.

Sekilas Tentang Remaja Tanjung Batu

Kehidupan remaja Tanjung Batu pada dasarnya memiliki kesamaan dengan kehidupan remaja di tempat lainnya di Indonesia, di sisi lain ada yang menarik dengan cerita kehidupan remaja di Tanjung Batu. Hal tersebut bisa dilihat dari aspek lingkungan alam serta sosial mereka. Mayoritas masyarakat Tanjung Batu berasal dari suku Bajau, yaitu sebuah kelompok masyarakat yang mencari penghidupan di laut. Lingkungan alam yang berada di sekitar pesisir laut, membuat masyarakat Tanjung Batu menggantungkan hidupnya pada laut, seperti menjadi penangkap ikan (nelayan), pariwisata; membuka warung makan, menjual aksesoris, dan lainnya. Bahkan kehidupan remaja Tanjung Batu tidak terlepas pula dari kehidupan seputar kelautan. Hal ini diperkuat dengan berdirinya SMK kelautan dan kegiatan olahraga layar di kampung Tanjung Batu. Ruang lingkup keduanya di isi oleh remaja dan anak-anak (yang menjadi atlet olahraga layar adalah anak usia 8 tahun ke atas). Tak dapat dipungkiri jika remaja senang berkumpul bersama teman-teman satu komunitasnya, membentuk kumpulan kegiatan remaja, seperti yang ada di Tanjung Batu. Kegiatan tersebut diantaranya adalah adanya radio komunitas, kegiatan olahraga layar, dan kumpulan anak yang senang nongkrong membentuk kegiatan balap liar, yaitu sebuah ajang kebut-kebutan motor.

Balap liar adalah salah satu tema cerita remaja Tanjung Batu yang diangkat oleh peserta workshop media dalam sebuah diskusi tentang tema kegiatan remaja yang tidak menarik. Mengapa terjadi demikian? Permasalahan mendasar dari remaja yang tinggal di Tanjung Batu adalah terbatasnya informasi pengetahuan, di sisi lain penayangan film ataupun iklan di televisi begitu kuat mempengaruhi remaja Tanjung Batu. Karena remaja merupakan fase mencari jati diri yang selalu ingin tahu dan ingin mencoba hal yang baru, maka lifestyle remaja di perkotaan mempengaruhi kehidupan pergaulan dan konsumerisme remaja Tanjung Batu, seperti adanya balap liar.

Dari segi prasarana dan ruang kreasi untuk remaja, beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat dari kabupaten Berau kadang mengadakan pelatihan yang berkisar tentang kelautan bersama remaja (anak sekolah) ataupun masyarakat. Pemerintah Kabupaten Berau pun ikut mendukung kegiatan anak-anak dan remaja Tanjung Batu yang berkaitan dengan laut, dengan menyediakan fasilitas untuk berlatih layar. Namun, tidak semua anak-anak, remaja ataupun orang tua yang ikut mendukung kegiatan tersebut. Salah satu hal yang menjadi penghambat remaja Tanjung Batu adalah kurangnya inisiatif dari diri sendiri dan kurangnya motivasi untuk menggerakkan kemauan mereka dalam kegiatan. Hal itu pula yang menjadi latar belakang adanya kerusakan pada lingkungan pesisir di Tanjung Batu, salah satunya adalah permasalahan sampah. Permasalahan sampah, kurangnya inisiatif remaja Tanjung Batu untuk mengisi waktu luangnya dengan kegiatan yang positif merupakan isu yang diangkat oleh peserta ”Jalan Remaja 1208” di kabupaten Berau.

-Bersambung-

Antara Dipati Ukur-Jatinangor

"Kuberlabuh di pulaumu,setelah kuberlayar mengarungi samuderamu..
senyummu rinduku, impian hidupku
wujud citacita cintaku..
Human Unpad Human Unpad wadahku
ku kan tetap mencintaimu itulah janjiku
belajar dan bekerja baktiku padamu
terimalah tanganku
aku pun adalah kamu...HUMANku."

"Siapa kalian?"

Mengingat kembali saat-saat d kampus Jatinangor...Antropologi terekam dalam batinku...teman-temannya,lingkungannya..para pengajar beserta staff...my memory...

Ada apa dg Jatinangor dan apa pula Dipati Ukur atawa DU? DU sebuah nama jalan d Bandung tempat kampus UNPAD berada.kalo jatinangor kampus UNPAD kedua, secara geografis katanya sih masuk wilayah Bandung Timur, tapi secara administratif masuk Sumedang (nu pasti kalo penelitian ia selalu kumasukkan ke Sumedang).

Persitiwanya terjadi pada 15 februari 2006. Aku bersama dua temanku pergi ke sebuah toko buku Gramedia d jalan Merdeka. Pulangnya sore, sekitar jam16.30an,sudah pasti Damri (angkuatan antara DU-Jatinangor) pun penuh penumpang. Kami bertiga hanya bisa duduk di mesin dekat pintu depan. (Mau bgaimana lagi?). Awalnya aku merasakan kesejukan angin yg meniup melewati pintu dan jendela (maklum kls ekonomi, anginnya pun AG_angin Gelebug) tapi setelah melewati Pusdai barulah siksaan itu itu datang. Bak ikan yg dimasukkan dalam peti,bus menjadia sesak. Dan yg anehnya pula mengapa orang-orang tetap mau naik bus yg sudah penuh (seperti aku mungkin.hbis murah sih,maklum mahasiswa.pengiritan.kalo naek angkot dah mahal,trun-naek pe 3 kali.hehe)

Beberapa penumpang berdiri di pintu,lorong antara kursi penmpang lain berdempet.duh kacian palagi da anak-anak n ortu.Mereka naik tanpa paksaan, tapi penuh dorongan karena emang sesak. akhirnya...penderitaan itu benar-benar teerjadi ketika bus mulai memasuki tol M.Toha. Bak ikan yg berada dalam peti kemudian dimasukkan dlm pembakaran/tungku api. Bernafas, mencium berbagai macam keringat ataupun parfum yg tlah bercampur dg keringat. aku hnya bisa pasrah, mungkin jg semua penumpang tsb. Lalu, bgmn dg sang pengendali, sang supir dan sang kernet? Ya, mereka mungkin bisa bernafas lega kalo emang setoran yg dikumpulkan bisa mencukupi. Karena qt semua tau atau tidak tau dan mau tidak mau, tapi emang harus tau dan mau apabila ingin tetap survive qt harus mengikuti alur yg sudah dikontrak oleh sistem, diatur oleh mesin...

Aku hanya bisa berharap dan mungkin anda semua jg berharap...semua akan jd lebih baik...seperti sistem yg dibentuk untuk sebuah perubahan yg lebih baik.

Apapun yg dibentuk oleh sebuah sistem segalanya akan kembali pada si pembuat sistem,akankah mereka yg bernama atau menamakan diri manusia memiliki sifat kemanusiaan ataukah nurani? Hewan sendiri tidak lebih keji daripada mereka yg mengatasnamakan manusia sebagai pemimpin manusia..Atas nama keadilan dan nurani mencoba membela makhluk di bumi,realitanya?? EGOISME sang penguasa atas dirinya dan kelompoknya.

Chaos. Kekacauan sudah terjadi dimanamana. Mampukah aku,anda atau qt semua menahan diri dari perhiasan dunia?! Kepicikan pun muncul. Kata-kata tidak bisa dijadikan landasan kekuatan sistem. Proses yg di implementasikan dalam perilaku kemanusiaan itu yg diharapkan. REALISTIS bukan UTOPIA!

....Bus Damri itu tetap melaju menuju tujuan akhirnya...satu persatu penumpang turun,kesesakan diganti kelengangan...itulah hidup. Pada akhirnya manusia pun akan teralienasi setelah ia keluar dari keramaian. ya..seperti diriku saat ini, ya.. seperti diriku... Setelah ramai kembali sepi...setelah sepi...


Tanjung Redeb,20 April 2009
Dalam penantian...

KISAH DARI TANJUNG BATU Mengumpulkan Cerita di Kampung Nelayan di Tanjung Batu (Bagian 1)


Kehidupan itu bak misteri. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi besok, meskipun sudah ada rencana hidup yang telah kita persiapkan untuk perjalanan hidup kita besok hari, tapi terkadang situasi dan kondisi akan mengubah rencana hidup manusia. Begitupula dengan perjalanan hidupku kali ini. Terlalu hiperbola? Kehidupan pada dasarnya memang penuh dramatisasi. Tapi, bagiku petualangan ini merupakan rezeki, menambah pengalaman untuk belajar tentang hidup.

Tanjung Batu adalah sebuah kampung nelayan yang menjadi ibukota kecamatan Pulau Derawan di kabupaten Berau. Tanjung Batu juga merupakan pintu gerbang menuju pulau-pulau yang berada disekitarnya. Di perairan kampung ini kita akan melihat ratusan bagan (rumah kayu di atas laut sebagai tempat untuk menangkap dan mengumpulkan ikan, dan jenis ikan hasil tangkapan nelayan kampung Tanjung Batu adalah ikan teri). Di Tanjung Batu ini juga kita akan melihat dinamika kehidupan sebuah kampung nelayan.

Tanggal 18 Juni 2009 ( kalau tidak salah catat) petualangan pertama menuju Tanjung Batu, seorang kawan menjemputku ke rumah dengan taksi sekitar jam 14.00 (transportasi umum di Berau disebut dengan nama taksi, jenisnya seperti mobil pribadi, kalau di Jawa sama dengan mobil travel). Perjalanan ini bertujuan untuk melakukan survei lapangan bagi kegiatan workshop media dalam rangka menyambut hari remaja internasional. Perjalanan Tanjung Redeb menuju Tanjung Batu jarak tempuhnya sekitar 2,5jam. Jarak tempuh itu kalau sama dengan jarak tempuh antara Majalengka ke Bandung. Tapi, perjalanan menuju Tanjung Batu nyaris tanpa hambatan bahkan sang driver begitu cepat menjalankan mobilnya. Pada awalnya aku membayangkan perjalanannya penuh dengan petualangan, jalanan berbatu dengan hutan di kanan kiri jalan. Tapi pada kenyataannya jalanan sudah beraspal, lancar tanpa goyangan ombak banyu seperti layaknya jalan provinsi dari Berau menuju Samarinda.

Di perjalanan menuju Tanjung Batu, sisi kiri dan kanan jalan terlihat rumah-rumah penduduk khas Kalimantan, yaitu rumah kayu walaupun jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya jarang-jarang. Kemudian, kami juga melewati hutan-hutan yang mulai tampak gundul, pertambangan batu bara dan logging. Cuaca saat itu begitu panas, lingkungan pun gersang, hutan tidak lagi belukar, mulai terlihat kerusakan hutan Kalimantan.

Ba’da ashar akhirnya sampai juga di rumah seorang kawan. Di rumahnya kita menginap semalam. Istirahat, melemaskan badan yang kaku dan kepanasan. Jam 17.00 kita keluar untuk memulai survei tempat, yaitu Boathouse (dari namanya kita pasti membayangkan sebuah rumah yang berdiri di atas laut, hmmm..seperti apa ya?). Langit Tanjung Batu begitu cerahnya, semilir angin laut menerpa tubuh kami, butiran-butiran air yang melekat di tubuh pun luluh kering, yang tersisa hanya kesegaran. Matahari rupanya masih enggan menutup diri, mungkin suasananya seperti masih jam 14.00 atau 15.00an. Menyusuri perkampungan nelayan Bajau, mulai terasa suasana kehidupan kampung nelayan, bahkan tercium bau asin dan amis ikan dari laut.

Surprise, perasaanku bahagia tak terkira. Mengapa? Karena aku tidak menyangka bahwa aku bisa juga melihat dan merasakan denyut kehidupan kampung Bajau (suku laut yang menggantungkan hidupnya pada sumber daya alam di laut), bahkan hidup bersama mereka. Empat bulan sebelum kedatanganku ke bumi Batiwakkal (Berau), aku membeli sebuah buku tentang laporan penelitian seorang antropolog mengenai kehidupan suku Bajau di Sulawesi. Buku itu dibeli tanpa rencana, hanya dengan melihatnya, membuatku tertarik, kemudian aku pun membayangkan dan bertanya pada diri sendiri “kapan aku bisa observasi kehidupan suku Bajau?” dan ternyata, kawan dimana aku menginap di Tanjung batu adalah suku Bajau dan mayoritas masyarakat di Tanjung Batu adalah suku Bajau.

Tanjung batu merupakan daerah pesisir, dan suku Bajau di sini tidak lagi tinggal di tengah laut. Rumah-rumah berjejer rapi di kiri kanan jalan yang telah beraspal. Ada rumah permanen (berupa tembok), sebagian lainnya (mayoritas) adalah rumah kayu (panggung) di atas laut (di tepian laut).

Akhirnya tiba juga kita di Boathouse. Lautan terhampar di depan mata memandang. Angin menghapus peluh keringat. Kususuri sudut-sudut Boathouse. Suasana tampak sepi, di dalam sebuah aula tampak berjejer perahu-perahu layar, besar kecil, dan ada juga satu buah jet ski. Di luar aula, di pelataran boathouse tampak tumpukan perahu-perahu layar. Katanya harga satu buah perahu layar berukuran sedang adalah Rp, 300 juta. Latihan layar ini juga difasilitasi oleh Yayasan Nusa Bahari dan Pemkab Berau. Boathouse sebagai tempat untuk latihan layar belum lama berdiri, kira-kira sekitar tahun 2000an. Ada anak yang telah menjadi atlit layar, dia juga sudah memberikan prestasi di ajang Bali Open dan PON 2008.

Kamar di boathouse ada sekitar 9 kamar, dan dua diantaranya akan kita pinjam, dan yang lainnya ditempati oleh atlit dan guru (pengawas/pelatih harian layar).

Setelah persiapan untuk kegiatan workshop media sudah selesai dibicarakan. Warung sanggar (gorengan) adalah tempat yang menjadi tujuan kita selanjutnya. Perut yang berontak dan membunyikan keroncong akhirnya mau juga berkompromi. Sanggar kita bawa di dermaga (jembatan penyebrangan). Wah, rupanya jembatan penyebrangan sudah banyak berkumpul anak-anak dan remaja. Di sanalah mereka menghabiskan waktu sore hari dengan nongkrong berkumpul bersama teman sebaya. Takut juga kita, karena mereka tidak hanya diam berkumpul tapi juga melakukan balap lari, yaitu menjalankan motor dengan laju yang kencang. Jembatan penyebrangan ini baru dibangun pada tahun 2008 untuk menyambut PON 2008, asalnya jembatan penyebrangan ini hanya berupa kayu bukan aspal dan tembok seperti saat ini.

Sunset pun mulai terlihat di ufuk langit Tanjung Batu, waktu menunjukkan jam 18.30, tak lama kemudian adzan magrib memanggil umat muslim untuk menghentikan aktifitasnya dan segera memasuki shaf-shaf di mesjid, berdoa dalam sujud dan tunduk pada Sang Pencipta alam raya. Kita pun pulang...

Menyusuri gang rumah-rumah di kampung nelayan. Beberapa penghuni rumah ada yang masih duduk-duduk di pelataran rumah panggung, melepas penat setelah seharian beraktifitas. Denyut kehidupan Tanjung Batu mulai terasa ketika senja datang, tapi ketika siang hari jalanan begitu lengang, sepi. Ini disebabkan matahari yang begitu terik membakar kulit. Kalimantan merupakan sebuah pulau yang memiliki iklim hutan hujan tropis, jadi selalu hujan sepanjang tahun, dalam arti kata walaupun panas kadang tiba-tiba hujan. Di tepian laut, denyut kehidupan di malam hari begitu terasa, tapi jauh memasuki perkampungan dimana kita tinggal..suasana malam nyaris seperti tanpa kehidupan manusia, hanya ada anjing yang hilir mudik melewati kampung. Kesunyian juga di isi dengan suara gesekan angin dan deburan ombak.

Keesokan pagi, kita melihat sunrise di dermaga. Menunggu kemunculan semburat mentari, rupanya dia enggan menampakkan diri. Awan hitam menggantung di langit Tanjung Batu, perlahan butiran-butiran air jatuh dari balik awan menetes di atas kepala..ya..sudah waktunya pulang ke Tanjung Redeb.

Tanjung Redeb, 28 Juli 2009

-Bersambung-

Antara Ada dan Tiada : Mimpi, Harapan dalam Idealisme

Apakah mimpi itu? Seringkali dikatakan bahwa mimpi adalah sesuatu yang tidak nyata, daya khayal atau imajinasi. Yup, mimpi memang tak nyata, tapi dia akan tampak apabila kita jadikan harapan, cita-cita. Mimpi pasif bisa saja dikatakan khayalan, tapi mimpi aktif bisa direalisasikan. Dengan kata lain, mimpi adalah harapan.

Lalu, apakah harapan itu? Revolusi Harapan-nya Erich Fromm dikatakan bahwa “harapan adalah unsur instrinsik struktur kehidupan, sebuah dinamika dalam spirit manusia.” Harapan dibentuk dari alam tak sadar manusia ketika dia belum berbenturan dengan realita kehidupan. Obyek harapan itu tidak hanya berupa “sesuatu” (materi) yang diinginkan, melainkan sebuah keinginan untuk mencapai hakikat kehidupan. Obyek harapan menurut Erich Fromm adalah suatu kondisi yang bebas dari kejenuhan yang berkepanjangan, kalau dalam istilah teologis 'untuk keselamatan' atau dalam istilah politik 'untuk revolusi'. Semua itu tidak akan menjadi harapan jika mengandung kepasifan, sehingga harapan dalam kenyataannya hanya akan menjadi kedok resignasi, ideologis semata. Harapan adalah sebuah keaktifan_ yang diinginkan dengan cara berusaha mencapai keinginan.

Revolusi Harapan menyatakan bahwa ditengah-tengah kehidupan manusia saat ini telah muncul 'hantu'. Bukan, bukan hantu mistik! Bukan pula 'isme' seperti komunisme atau fasisme. Hantu ini jenis baru. Kemunculannya mungkin sudah lama, tapi baru terdeteksi keberadaannya saat ini. Yup! Hantu itu adalah “masyarakat yang dimesinkan secara total, dicurahkan untuk meningkatkan produksi dan konsumsi material dan diarahkan oleh komputer-komputer. Manusia dalam proses sosial semacam ini menjadi bagian dari mesin, diberi makan dan hiburan yang cukup tetapi pasif, tidak hidup dan nyaris tanpa perasaan. Perasaan-perasaan dalam hubungannya dengan orang lain diatur oleh alat-alat yang mengkondisikan psikologis, pembiusan yang dianggap memberi bentuk pengalaman instropektif baru”(Fromm: 2004 :hal.1).

Lalu, bagaimana kita menyikapi hantu tersebut? Solusinya adalah ada pada diri kita sendiri. Apa harapanmu? Kawan, hidup itu pilihan, seperti pilihanmu untuk menciptakan harapan.

Aku berharap, selalu berharap. Setiap tanah yang kuinjak, setiap kerikil yang kulangkahi, setiap deru nafas kuhempas. Bergerak. Berharap. Harapan yang nyata. Dan harapan itu akan selalu ada dalam setiap pergerakan kita.”

Jadi, hantu baru tersebut sudah menjadi bagian dari kehidupan kita. Buka kembali rekaman memorimu, lihat rutinitas kehidupanmu. Diawali dari bangun tidur di pagi hari sampai kembali tidur di malam hari. Jadwal padat dengan waktu yang tetap, aktifitas berdasarkan kebutuhan produsen dan konsumen. Contoh kasus adalah para pekerja di Pabrik. Jadi, apa harapan yang kamu atau mereka bentuk?

Bagiku, harapan adalah untuk mewujudkan eksistensi manusia, jika tidak maka diri akan merasa teralienasi. Contoh kasus yang terbaru adalah mengenai pelaku teror dalam peledakan bom JW. Marriot dan Ritz Carlton di Mega Kuningan, Jakarta selatan. Mengapa mereka berperilaku seperti itu dan harapan apa yang mereka bentuk? Awalnya adalah ide yang menjadi harapan. Jika pelakunya lebih dari satu, mereka adalah kumpulan dari ego. Meminjam pernyataan dari idealisme subyektif, ego atau aku-isme hanya mengakui yang nyata dan yang ada hanya aku. Segala sesuatu yang ada di luar selain aku hanyalah konsepsi-konsepsi dari aku. Dan hanya Tuhan yang berada tanpa tergantung pada konsepsi. Pemahaman tersebut tentu menimbulkan kontroversi karena aku itu bersifat egois. Tapi, apalah artinya kehidupan jika tidak ada perbedaan, karena perbedaan maka kehidupan jadi bak pelangi, penuh warna. Dinamika perbedaan dalam hidup itu tergantung pada harapan setiap manusia.

Kasus terorisme bisa pula dikaitkan dengan sifat pragmatis. Pragmatisme adalah filosofi yang menggunakan akibat-akibat praktis dari ide-ide atau kenyakinan-keyakinan sebagai suatu ukuran untuk menetapkan nilai dan kebenarannya. Harapan tentang hidup yang bernilai dan benar, seperti yang mereka lakukan adalah sikap yang dapat dibenarkan selama dapat menguntungkan untuk si aku (ego). Harapan itulah yang akan kemudian akan membentuk identitas ego. Orang yang memiliki sifat fatalis akan mudah melakukan sikap seperti pelaku teror jika dia dipengaruhi atau diberikan doktrin tentang harapan-harapan perilaku seperti itu. Harapan perilaku tersebut akan lebih mudah diketahui jika dikaji dengan psikologi, tapi dalam tulisan ini aku tidak dapat menjelaskannya secara detail, biarlah psikolog yang menguasai bidangnya yang mengkaji lebih dalam.

Kawan, segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan manusia adalah proses sosial dari harapan yang dibentuk manusia, idealisme manusia.


Aku bisa, kau juga bisa!”

Tanjung Redeb, Juli 2009

Literature :

Erich Fromm.2004.Revolusi Harapan: menuju masyarakat teknologi yang manusiawi.Pustaka Pelajar

-Bersambung-

Sabtu, 20 Juni 2009

PUISI KEHIDUPAN

DALAM DEKAPAN DERMAYU

Burung-burung itu belum datang

Aku jadi tak tahu berita

Sepi!

Kekasih itu apa sudah tiba?

Tapi aku belum berjumpa dengannya

Sepi!

Berada dalam ruang gelap

Ditingkahi nyamuk-nyamuk yang mengitari kepalaku

Sepi!

Semburat cahaya dari balik pintu memberi warna pada hidupku

apakah Kekasih sudah dekat denganku?

Aku merinduinya.

Aku berharap Dia datang membawa seribu prosa cerita tentang cinta, cita, asa

menemaniku mendaki aral hidup

menentang badai

mengarungi lautan dan gunung..

Tasbih..

Tahmid..

Takbir..

menemaniku melangkah, melompat, menerjang..

Kekasihku aku selalu merinduiMu

aku tahu Kau selalu hadir menemaniku..

dalam ruku, sujud..di tiap waktu

Kekasihku aku akan selalu merinduiMu

....

Dermayu, 5 November 2008

HIDUPKU

Satu kata tanpa suara,

Hening.

Dua suara tanpa kata,

Sepi.

Tiga cerita dalam prosa,

Hidup.

Hening...hanyalah hening

Sepi...hanyalah sepi

Tapi hidup tidak hanya hidup,

Hidupku,

Kehidupanku.


PERGI!

Kakiku melangkah

Tubuhku bergetar

Jantungku berdetak

Jiwaku bergemuruh

....

Pergi!

SEBUAH RAHASIA

Sttttt...

Ada sebuah cerita

Cerita rahasia tentang manusia

Apa kau ingin tahu?

Ya, kau pasti ingin tahu

Manusia ini bukan hanya seorang manusia

Ia bukan manusia biasa

Kehidupannya telah mengembara dalam alam pikiran manusia-manusia

Perjuangannya adalah spirit untuk kaumnya

Apa kau tahu siapa dia?

Dia ada dalam alam pikiranmu!

Tentu kau sudah membukanya

Apa kau mengikuti jalan yang dia jalankan?

Apa kau bergerak mengikuti pikiran yang dia pikirkan?

Sejarah berubah, peradaban berubah

Tentu kau mengenalnya.

Ya dia adalah Nabi Muhammad SAW.

Aku merindukannya...

TANJUNG REDEB

Dua sungai mengapitnya

Segah dan Kelay

Terik di kala matahari berada di atas kepala

Langit pun seperti dekat dengan kepala

Kota berawan

Kota Jawa Timur

Banyak pendatang dari Jawa Timur

Kemana orang-orang Banua?

Lama lawan baru

Yang lama hilang

Yang baru datang

Mengapa?

Inikah proses dari kehidupan?

Dinamis

Tapi mengapa harus hilang

Bukankah tradisional tak harus melawan modern?

Mengapa?

Ya mengapa?

Apa kau tahu jawabannya?!

SENJA DI TEPIAN

Matahari dengan malu-malu menutup diri dibalik awan

Secercah lembayung tanda kehadirannya

kepak dua elang mengitari langit senja

Kumpulan awan putih mencoba memayunginya

Kapal bertambat pada dermaga

Sungai hening tak berarus

Sepuluh tenda merapatkan barisan di tepian sungai segah

Ketingting,kapal barang,Perahu motor,awak kapal, pedagang,sepeda motor bersahutan di tepian

Senja pun berganti malam

Terang berganti gelap

Kunang-kunang pun enggan datang

Cahyanya terganti lampu gedung yang berdiri pongah memandang tandusnya tepian

Tanjung, 24 Mei 2009

HUJAN

Ketika bintang datang

Malam menutup mataku

Airmata mengundang awan

Langit menagis

Bintang pun enggan datang...

Tanjung, 29 Mei 2009

BERAU DIKALA KEGELAPAN

Kota kecil ini tak miskin!

Ia kaya dengan kekayaan alam batu bara, perkebunan, kelautan

sekali lagi, Kota kecil ini tak miskin!

Ia hanya dimiskinkan!

Kota kecil ini bukan tak punya keberanian

Ia hanya dibutakan

Kota kecil ini tak mati!

tapi hanya dimatikan.

Kota kecil ini sedang mencoba berdiri

Kota kecil ini sudah mencoba melangkah

Kota kecil ini hanya sedang mencari eksistensinya

Dia ada, dia berwujud!

kota kecil ini belum mati!

Berau hanya sedang berada dalam kegelapan

karena listrik hilang eksistensinya

karena pemerintah hilang nuraninya

Kota kecil ini masih hidup!

KETIKA...

Aku diberitahu angin

Bahwa hujan tak akan datang menyirami tanah

Aku diberitahu tanah

Bahwa hujan sudah lama tak memeluknya

Aku diberitahu awan

Bahwa laut enggan memberi uap

Aku diberitahu laut

Bahwa matahari masih memberi sengatan sinarnya

Aku tak diberitau matahari mengapa ia begitu panas

Angin memberitahuku

Bahwa kaumku mengundang angin, tanah, hujan, lautan dan matahari

Mereka datang

Mereka bergerak

Ketika itu kaumku hanya berkata

“seandainya...”

KALA SENJA

Aku dengar suara...

Dari kejauhan

Bunyi gamelan yang mengalun

Menggerakkan angin,

Menerbangkan dedaunan hingga pecah

Membuyarkan lamunan kepik dan kupu-kupu yang mengisap madu

Membangunkanku bahwa waktu akan berganti.

CAKE HOUSE

Ada sebuah rumah

yang berandanya berlapis coklat

Atapnya bertabur cream merah

Dinding dipoles white cream

Dikelilingi pohon-pohon kecil

Hijau, biru, kuning

Ada sebuah ruang

Yang di atasnya berhiaskan lilin

Lantai dengan permadani keju

Kursi, meja berbahan batang coklat

Ada sebuah ruang di dalam rumah

Itulah cake house

Indah, manis terasa...

Tanjung, 2 Juni 2009

Jumat, 19 Juni 2009

MENGAYAU Sebuah Tradisi Dayak


Masyarakat dan kebudayaan adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Masyarakat merupakan otak yang menciptakan ide/gagasan sehingga kemudian membentuk pola perilaku, kebiasaan, dan menjadi kebudayaan. Saling berkesinambungan, begitulah sifatnya. Mengkaji tentang kebudayaan masyarakat merupakan pembelajaran untuk kehidupan selanjutnya. Apalagi, individu manusia dilahirkan dengan sebuah tanggung jawab untuk menjadi khalifah di muka bumi, dalam arti kata menjadi pemimpin, pengawas, pengelola, pemelihara bumi dan seluruh isinya. Pola perilaku manusia pun terbagi-bagi menjadi beberapa sistem kehidupan.


Koentjaraningrat membagi tujuh unsur kebudayaan yang meliputi aspek material maupun nonmaterial. Aspek tersebut, antara lain:

1) Sistem religi dan keagamaan,

2) Sistem dan organisasi kemasyarakatan,

3) Sistem pengetahuan,

4) Bahasa,

5) Sistem kesenian,

6) Sistem mata pencaharian hidup,

7) Sistem teknologi dan peralatan.

Mengayau atau memenggal adalah sebuah tradisi yang kerap dilakukan oleh komunitas dayak pada masa lalu. Tapi, pada saat ini pun ada beberapa komunitas dayak yang masih melakukan tradisi mengayau.

Apa yang menjadi latar belakang tradisi mengayau dilakukan oleh dayak?

Untuk mengetahui kebiasaan tersebut sehingga kemudian berkembang menjadi tradisi, kita bisa menelusiri dari sejarah orang-orang dayak. Sejarah orang-orang dayak di Kalimantan ditandai oleh migrasi besar-besaran, seperti peperangan, pengayauan (pemenggalan), penaklukan, yang mana hal itu terjadi selama hampir tiga abad (dalam Surya di Timur Laut Kalimantan; YDBCC dan yayasan Kalbu).

Ada beberapa faktor yang mengakibatkan komunitas dayak melakukan migrasi besar-besaran, diantaranya;

1. Perubahan alam, seperti keberadaan hutan sebagai sumber pangan untuk kebutuhan hidup mereka yang mengalami kerusakan akibat faktor iklim dan beberapanya campur tangan manusia, seperti pembukaan lahan perkebunan, logging, dan pertambangan (faktor kerusakan lahan akibat perkebunan, logging dan pertambangan terjadi ketika bangsa kolonial memasuki pedalaman Kalimantan).

2. Adanya desakan akan kebutuhan hidup survive mengakibatkan kebiasaan komunitas dayak yang menjalankan hidup nomaden semakin meluas.

3. Kebutuhan untuk survive juga mendorong komunitas dayak untuk membangun ketahanan hidup dengan melakukan peperangan, menguasai kelompok suku lainnya untuk memperluas lahan, menaklukan kelompok suku dayak lainnya, dan untuk regenerasi.


Pada dasarnya, dayak tidak mengenal agama_kepercayaan mereka bukanlah pada monoteisme. Pandangan terhadap dunia (world view), hukum, kepercayaan, hubungan dengan masyarakat dan kebiasaan lain merupakan tradisi yang kemudian menjadi way of life mereka.

Suku bangsa Dayak asli merupakan penganut animisme yang disebut kaharingan diambil dari istilah danum kaharingan yang artinya air kehidupan. Mereka percaya kepada roh-roh (ngajum ganan) yang menempati tiang rumah, hutan, pohon besar dan air. Roh nenek moyang (ngaju liau) merupakan makhluk halus terpenting dalam kehidupan masyakarat asli Dayak.


Mengayau dilakukan atas dasar kepercayaan. Tapi, seiring dengan terbukanya akses jalan dan perubahan alam, keberadaan tradisi mereka tiadak luput dari pengarauh eksternal hingga terjadilah perubahan sosial dalam kehidupan mereka, termasuk cara pandang terhadap kepercayaan (tradisi_world view).


Pengayauan memiliki latar belakang alasan, menurut pandangan religius orang dayak, jiwa atau daya hidup manusia tinggal di dalam kepala manusia. Kepala yang dikayau (dipenggal) adalah benda magis, yang bersifat religius untuk menguatkan kehidupannya dan orang lain. Kepala korban pengayauan dikumpulkan dari berbagai umur. Kepala-kepala yang telah dikayau diperlukan untuk upacara adat, untuk membersihkan dan untuk memperkokoh desa. Terkadang, para pemuda dari suku dayak melakukan pengayauan untuk membuktikan keberanian pada calon pengantin wanita.


Seiring dengan perubahan sosial, terutama ketika bangsa kolonial mulai memasuki pedalaman Kalimantan, kebiasaan mengayau berkurang. Pada masa itu, kolonial Belanda dan Inggris melakukan patroli militer yang kemudian membawa orang yang telah mengayau. Selain itu, kedatangan orang luar yang membawa misi menyebarkan agama, turut juga mempengaruhi kebiasaan orang-orang dayak untuk tidak melakukan pengayauan. Apalagi mengayau kepala manusia dianggap sebagai perbuatan yang tidak berperikemanusiaan, melanggar norma dan nilai agama. Tradisi mengayau kepala manusia untuk sesaji bagi upacara adat diganti dengan kepala kerbau.


Literature :

Yayasan Dharma Bhakti Berau Coal&Yayasan KALBU. Surya di Timur Kalimantan; sebuah panduan perjalanan.

LISTRIK-KU...

Listrik mati = air mati = kota mati

Pernyataan di atas merupakan sebuah bentuk aksi protes yang di suarakan oleh kelompok mahasiswa dari tiga Sekolah Tinggi di sebuah kota kecil di Borneo. Pernyataan itu pula yang kemudian mengusik hatiku dan mendorong pikiran melalui tanganku untuk menorehkan sebentuk kata lewat tulisan.


Dari sebuah fenomena, kurasakan kegelisahan. Kulukis kata dalam sebuah cerita...


Kawan..apa arti listrik bagimu? Bagi masyarakat urban, listrik sangat berperan penting bagi sendi kehidupannya. Konon, listrik tak hanya berfungsi sebagai penerang di kala kegelapan, ia juga menjadi faktor penting bagi kehidupan ekonomi. Tapi...ternyata tidak hanya sebatas itu saja ada sendi kehidupan lainnya di dalamnya, seperti politik..Hmmm...


Kawan..izinkan aku membawa pikiranmu ke sebuah kota kecil di belahan Borneo, tepatnya di Tanjung. Di sebuah kota kecil ini pula ku bawa pikiranmu untuk membuat sebuah pilihan..membuka kepekaan bahwa ternyata ada kehidupan yang belum kita sentuh, bahwa ternyata ada kehidupan yang kurang lebih baik dari kehidupan kita. Dan kita harus memilih. Karena hidup adalah pilihan. Ada hitam, ada putih. Ada jalan berkelok, ada jalan landai. Ada nasi, ada bubur. Ada sepeda, ada motor. Ada Umar Ibn Khathab, ada abu Jahal. Ada aku, ada kamu..-teu langkung kantun dipilih – terserah silakan memilih. Bukankah kita sendiri yang merasakan di tempat mana kita merasa nyaman? Karena semua sendi kehidupan tak ada yang tak baik. Ada pembelajaran, ada hikmah.


Listrik..aku baru menyadari bahwa ia begitu penting - bahwa aku amat tergantung padanya - bahwa aku merasa rindu dan kehilangan ia jika tak ada. Hmmm..


Selama hidupku bermukim di sebuah perkotaan, baru kali ini aku merasakan listrik hilang selama 30jam - hidup dengannya hanya 6jam. Malah saat ini, ia hidup hanya 2jam! Tak bisa di prediksi jam berapa ia akan menerangi hidupku. Listrik PLN mati, otomatis air PDAM mati. Jadi, apa kita juga mau ikut-ikutan mati?! Apa yang kamu rasakan dan akan lakukan jika hidup di sebuah perkampungan tanpa listrik? Dan apa yang kamu rasakan dan lakukan jika hidup di sebuah perkotaan yang listriknya byar-pet? Tentu kamu punya pilihan.


Masyarakat di Tanjung sudah terbiasa merasakan kehidupan dimana terjadi pemadaman listrik hampir tiap tahun. Apa respon mereka? Mengeluh? Tentu, tapi hanya sebatas itu dan mereka menerimanya sebagai sebuah konsekuensi hidup di sebuah tempat dimana pembangunan antara pemerintah pusat dan daerah mengalami ketimpangan-tak seimbang. Tapi, jum’at 29 mei 2009 terjadi momen yang membangkitkan respon masyarakat. Ya, sekelompok mahasiswa dari tiga sekolah tinggi di kota kecil itu melakukan aksi turun ke jalan memprotes PLN yang melakukan pemadaman listrik diluar batas kewajaran. Awalnya pemadaman listrik oleh PLN hanya 8-10jam bergilir di tiap wilayah di kota itu. Tapi kenyatannya menjadi 24jam,30jam bahkan ada yang sampai 2hari 2malam! Lalu bagaimana dengan usaha-usaha kecil seperti fotokopi, warnet, dsb? Katanya pemadaman listrik akan berlangsung pe 2bulan (wuaduuh.). Selama 2bulan pakai genset? Lalu bagaimana dengan orang - yang bagi mereka bisa makan saja sudah alhamdulillah, dan untuk beli genset bahkan beli bahan bakarnya tiap hari? Tentu terlalu berat. Dan mereka harus memilih.


Kata PLN, “listrik dimatikan untuk menjaga peralatan..” lalu kenapa harus tiap tahun terjadi pemadaman listrik? Bukankah ada biaya operasional untuk melakukan perawatan? Dengar-dengar ada selentingan bahwa pengusaha meminta jatah listrik lebih untuk produksi perusahaan. Karena itu jatah listrik untuk rumah tangga diambil, jadi sering byar-pet.

Bagaimana pemerintah menyikapi masalah listrik PLN? Dalam sebuah TV kabel, pemerintah daerah menayangkan diskusi langsung untuk membicarakan persoalan listrik di kotanya. Tapi, pada kenyataannya pemadaman listrik masih tetap berlangsung hingga saat ini- malahan tak bisa diprediksi. Pagi ini saja listrik nyala cuma 2jam, kemudian mati-entah jam berapa akan hidup kembali.


Masyarakat tak berani protes karena tak terbiasa dengan budaya protes. Mungkin juga ada rasa takut. Mahasiswa pun baru kali ini melakukan aksi protes turun ke jalan, karena mereka adalah wakil kaum intelektual di kota yang berperan penting untuk menyuarakan aspirasi masyarakat dan perkembangan kota. Nah, mulailah dijalankan untuk berani memprotes tindakan oknum penguasa lalim yang menginjak hak masyarakat. Tapi, pilihan untuk berani protes jangan sampai hanya sebatas wacana/isu, gali substansinya! Misalnya, Mengapa PLN memilih mengambil tindakan pemadaman listrik tiap tahun? Bukankah itu merugikan konsumen? Jika memang ada kerusakan, mengapa tidak lebih baik melakukan perawatan secara rutin-bukankah itu lebih baik untuk konsumen-bahkan PLN sendiri? Pada dasarnya, keputusan yang mereka ambil memiliki alasannya, tapi tentu ada konsekuensinya. Kemudian, Mengapa masyarakat hanya memilih diam dan menerima perlakuan PLN? Mengapa akhirnya mahasiswa baru berani unjuk gigi-turun ke jalan menyambung aspirasi masyarakat kepada PLN- Pemerintah?


Kawan, Silakan tentukan pilihannya..karena jawabannya ada dalam kepala anda...


Dan ini bukan persoalan sepele, karena hal tersebut menyangkut hajat hidup orang banyak-keberlangsungan anak-cucu kita di planet bumi ini.


Tanjung, 3 Juni 2009

(Dalam kegelapan)