
Masyarakat dan kebudayaan adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Masyarakat merupakan otak yang menciptakan ide/gagasan sehingga kemudian membentuk pola perilaku, kebiasaan, dan menjadi kebudayaan. Saling berkesinambungan, begitulah sifatnya. Mengkaji tentang kebudayaan masyarakat merupakan pembelajaran untuk kehidupan selanjutnya. Apalagi, individu manusia dilahirkan dengan sebuah tanggung jawab untuk menjadi khalifah di muka bumi, dalam arti kata menjadi pemimpin, pengawas, pengelola, pemelihara bumi dan seluruh isinya. Pola perilaku manusia pun terbagi-bagi menjadi beberapa sistem kehidupan.
Koentjaraningrat membagi tujuh unsur kebudayaan yang meliputi aspek material maupun nonmaterial. Aspek tersebut, antara lain:
1) Sistem religi dan keagamaan,
2) Sistem dan organisasi kemasyarakatan,
3) Sistem pengetahuan,
4) Bahasa,
5) Sistem kesenian,
6) Sistem mata pencaharian hidup,
7) Sistem teknologi dan peralatan.
Mengayau atau memenggal adalah sebuah tradisi yang kerap dilakukan oleh komunitas dayak pada masa lalu. Tapi, pada saat ini pun ada beberapa komunitas dayak yang masih melakukan tradisi mengayau.
Apa yang menjadi latar belakang tradisi mengayau dilakukan oleh dayak?
Untuk mengetahui kebiasaan tersebut sehingga kemudian berkembang menjadi tradisi, kita bisa menelusiri dari sejarah orang-orang dayak. Sejarah orang-orang dayak di
Ada beberapa faktor yang mengakibatkan komunitas dayak melakukan migrasi besar-besaran, diantaranya;
1. Perubahan alam, seperti keberadaan hutan sebagai sumber pangan untuk kebutuhan hidup mereka yang mengalami kerusakan akibat faktor iklim dan beberapanya campur tangan manusia, seperti pembukaan lahan perkebunan, logging, dan pertambangan (faktor kerusakan lahan akibat perkebunan, logging dan pertambangan terjadi ketika bangsa kolonial memasuki pedalaman Kalimantan).
2. Adanya desakan akan kebutuhan hidup survive mengakibatkan kebiasaan komunitas dayak yang menjalankan hidup nomaden semakin meluas.
3. Kebutuhan untuk survive juga mendorong komunitas dayak untuk membangun ketahanan hidup dengan melakukan peperangan, menguasai kelompok suku lainnya untuk memperluas lahan, menaklukan kelompok suku dayak lainnya, dan untuk regenerasi.
Pada dasarnya, dayak tidak mengenal agama_kepercayaan mereka bukanlah pada monoteisme. Pandangan terhadap dunia (world view), hukum, kepercayaan, hubungan dengan masyarakat dan kebiasaan lain merupakan tradisi yang kemudian menjadi way of life mereka.
Suku bangsa Dayak asli merupakan penganut animisme yang disebut kaharingan diambil dari istilah danum kaharingan yang artinya air kehidupan. Mereka percaya kepada roh-roh (ngajum ganan) yang menempati tiang rumah, hutan, pohon besar dan air. Roh nenek moyang (ngaju liau) merupakan makhluk halus terpenting dalam kehidupan masyakarat asli Dayak.
Mengayau dilakukan atas dasar kepercayaan. Tapi, seiring dengan terbukanya akses jalan dan perubahan alam, keberadaan tradisi mereka tiadak luput dari pengarauh eksternal hingga terjadilah perubahan sosial dalam kehidupan mereka, termasuk cara pandang terhadap kepercayaan (tradisi_world view).
Pengayauan memiliki latar belakang alasan, menurut pandangan religius orang dayak,
Seiring dengan perubahan sosial, terutama ketika bangsa kolonial mulai memasuki pedalaman
Literature :
Yayasan Dharma Bhakti Berau Coal&Yayasan KALBU. Surya di Timur
Tidak ada komentar:
Posting Komentar