"Kuberlabuh di pulaumu,setelah kuberlayar mengarungi samuderamu..
senyummu rinduku, impian hidupku
wujud citacita cintaku..
Human Unpad Human Unpad wadahku
ku kan tetap mencintaimu itulah janjiku
belajar dan bekerja baktiku padamu
terimalah tanganku
aku pun adalah kamu...HUMANku."
"Siapa kalian?"
Mengingat kembali saat-saat d kampus Jatinangor...Antropologi terekam dalam batinku...teman-temannya,lingkungannya..para pengajar beserta staff...my memory...
Ada apa dg Jatinangor dan apa pula Dipati Ukur atawa DU? DU sebuah nama jalan d Bandung tempat kampus UNPAD berada.kalo jatinangor kampus UNPAD kedua, secara geografis katanya sih masuk wilayah Bandung Timur, tapi secara administratif masuk Sumedang (nu pasti kalo penelitian ia selalu kumasukkan ke Sumedang).
Persitiwanya terjadi pada 15 februari 2006. Aku bersama dua temanku pergi ke sebuah toko buku Gramedia d jalan Merdeka. Pulangnya sore, sekitar jam16.30an,sudah pasti Damri (angkuatan antara DU-Jatinangor) pun penuh penumpang. Kami bertiga hanya bisa duduk di mesin dekat pintu depan. (Mau bgaimana lagi?). Awalnya aku merasakan kesejukan angin yg meniup melewati pintu dan jendela (maklum kls ekonomi, anginnya pun AG_angin Gelebug) tapi setelah melewati Pusdai barulah siksaan itu itu datang. Bak ikan yg dimasukkan dalam peti,bus menjadia sesak. Dan yg anehnya pula mengapa orang-orang tetap mau naik bus yg sudah penuh (seperti aku mungkin.hbis murah sih,maklum mahasiswa.pengiritan.kalo naek angkot dah mahal,trun-naek pe 3 kali.hehe)
Beberapa penumpang berdiri di pintu,lorong antara kursi penmpang lain berdempet.duh kacian palagi da anak-anak n ortu.Mereka naik tanpa paksaan, tapi penuh dorongan karena emang sesak. akhirnya...penderitaan itu benar-benar teerjadi ketika bus mulai memasuki tol M.Toha. Bak ikan yg berada dalam peti kemudian dimasukkan dlm pembakaran/tungku api. Bernafas, mencium berbagai macam keringat ataupun parfum yg tlah bercampur dg keringat. aku hnya bisa pasrah, mungkin jg semua penumpang tsb. Lalu, bgmn dg sang pengendali, sang supir dan sang kernet? Ya, mereka mungkin bisa bernafas lega kalo emang setoran yg dikumpulkan bisa mencukupi. Karena qt semua tau atau tidak tau dan mau tidak mau, tapi emang harus tau dan mau apabila ingin tetap survive qt harus mengikuti alur yg sudah dikontrak oleh sistem, diatur oleh mesin...
Aku hanya bisa berharap dan mungkin anda semua jg berharap...semua akan jd lebih baik...seperti sistem yg dibentuk untuk sebuah perubahan yg lebih baik.
Apapun yg dibentuk oleh sebuah sistem segalanya akan kembali pada si pembuat sistem,akankah mereka yg bernama atau menamakan diri manusia memiliki sifat kemanusiaan ataukah nurani? Hewan sendiri tidak lebih keji daripada mereka yg mengatasnamakan manusia sebagai pemimpin manusia..Atas nama keadilan dan nurani mencoba membela makhluk di bumi,realitanya?? EGOISME sang penguasa atas dirinya dan kelompoknya.
Chaos. Kekacauan sudah terjadi dimanamana. Mampukah aku,anda atau qt semua menahan diri dari perhiasan dunia?! Kepicikan pun muncul. Kata-kata tidak bisa dijadikan landasan kekuatan sistem. Proses yg di implementasikan dalam perilaku kemanusiaan itu yg diharapkan. REALISTIS bukan UTOPIA!
....Bus Damri itu tetap melaju menuju tujuan akhirnya...satu persatu penumpang turun,kesesakan diganti kelengangan...itulah hidup. Pada akhirnya manusia pun akan teralienasi setelah ia keluar dari keramaian. ya..seperti diriku saat ini, ya.. seperti diriku... Setelah ramai kembali sepi...setelah sepi...
Tanjung Redeb,20 April 2009
Dalam penantian...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar