Rabu, 29 Juli 2009

Antara Ada dan Tiada : Mimpi, Harapan dalam Idealisme

Apakah mimpi itu? Seringkali dikatakan bahwa mimpi adalah sesuatu yang tidak nyata, daya khayal atau imajinasi. Yup, mimpi memang tak nyata, tapi dia akan tampak apabila kita jadikan harapan, cita-cita. Mimpi pasif bisa saja dikatakan khayalan, tapi mimpi aktif bisa direalisasikan. Dengan kata lain, mimpi adalah harapan.

Lalu, apakah harapan itu? Revolusi Harapan-nya Erich Fromm dikatakan bahwa “harapan adalah unsur instrinsik struktur kehidupan, sebuah dinamika dalam spirit manusia.” Harapan dibentuk dari alam tak sadar manusia ketika dia belum berbenturan dengan realita kehidupan. Obyek harapan itu tidak hanya berupa “sesuatu” (materi) yang diinginkan, melainkan sebuah keinginan untuk mencapai hakikat kehidupan. Obyek harapan menurut Erich Fromm adalah suatu kondisi yang bebas dari kejenuhan yang berkepanjangan, kalau dalam istilah teologis 'untuk keselamatan' atau dalam istilah politik 'untuk revolusi'. Semua itu tidak akan menjadi harapan jika mengandung kepasifan, sehingga harapan dalam kenyataannya hanya akan menjadi kedok resignasi, ideologis semata. Harapan adalah sebuah keaktifan_ yang diinginkan dengan cara berusaha mencapai keinginan.

Revolusi Harapan menyatakan bahwa ditengah-tengah kehidupan manusia saat ini telah muncul 'hantu'. Bukan, bukan hantu mistik! Bukan pula 'isme' seperti komunisme atau fasisme. Hantu ini jenis baru. Kemunculannya mungkin sudah lama, tapi baru terdeteksi keberadaannya saat ini. Yup! Hantu itu adalah “masyarakat yang dimesinkan secara total, dicurahkan untuk meningkatkan produksi dan konsumsi material dan diarahkan oleh komputer-komputer. Manusia dalam proses sosial semacam ini menjadi bagian dari mesin, diberi makan dan hiburan yang cukup tetapi pasif, tidak hidup dan nyaris tanpa perasaan. Perasaan-perasaan dalam hubungannya dengan orang lain diatur oleh alat-alat yang mengkondisikan psikologis, pembiusan yang dianggap memberi bentuk pengalaman instropektif baru”(Fromm: 2004 :hal.1).

Lalu, bagaimana kita menyikapi hantu tersebut? Solusinya adalah ada pada diri kita sendiri. Apa harapanmu? Kawan, hidup itu pilihan, seperti pilihanmu untuk menciptakan harapan.

Aku berharap, selalu berharap. Setiap tanah yang kuinjak, setiap kerikil yang kulangkahi, setiap deru nafas kuhempas. Bergerak. Berharap. Harapan yang nyata. Dan harapan itu akan selalu ada dalam setiap pergerakan kita.”

Jadi, hantu baru tersebut sudah menjadi bagian dari kehidupan kita. Buka kembali rekaman memorimu, lihat rutinitas kehidupanmu. Diawali dari bangun tidur di pagi hari sampai kembali tidur di malam hari. Jadwal padat dengan waktu yang tetap, aktifitas berdasarkan kebutuhan produsen dan konsumen. Contoh kasus adalah para pekerja di Pabrik. Jadi, apa harapan yang kamu atau mereka bentuk?

Bagiku, harapan adalah untuk mewujudkan eksistensi manusia, jika tidak maka diri akan merasa teralienasi. Contoh kasus yang terbaru adalah mengenai pelaku teror dalam peledakan bom JW. Marriot dan Ritz Carlton di Mega Kuningan, Jakarta selatan. Mengapa mereka berperilaku seperti itu dan harapan apa yang mereka bentuk? Awalnya adalah ide yang menjadi harapan. Jika pelakunya lebih dari satu, mereka adalah kumpulan dari ego. Meminjam pernyataan dari idealisme subyektif, ego atau aku-isme hanya mengakui yang nyata dan yang ada hanya aku. Segala sesuatu yang ada di luar selain aku hanyalah konsepsi-konsepsi dari aku. Dan hanya Tuhan yang berada tanpa tergantung pada konsepsi. Pemahaman tersebut tentu menimbulkan kontroversi karena aku itu bersifat egois. Tapi, apalah artinya kehidupan jika tidak ada perbedaan, karena perbedaan maka kehidupan jadi bak pelangi, penuh warna. Dinamika perbedaan dalam hidup itu tergantung pada harapan setiap manusia.

Kasus terorisme bisa pula dikaitkan dengan sifat pragmatis. Pragmatisme adalah filosofi yang menggunakan akibat-akibat praktis dari ide-ide atau kenyakinan-keyakinan sebagai suatu ukuran untuk menetapkan nilai dan kebenarannya. Harapan tentang hidup yang bernilai dan benar, seperti yang mereka lakukan adalah sikap yang dapat dibenarkan selama dapat menguntungkan untuk si aku (ego). Harapan itulah yang akan kemudian akan membentuk identitas ego. Orang yang memiliki sifat fatalis akan mudah melakukan sikap seperti pelaku teror jika dia dipengaruhi atau diberikan doktrin tentang harapan-harapan perilaku seperti itu. Harapan perilaku tersebut akan lebih mudah diketahui jika dikaji dengan psikologi, tapi dalam tulisan ini aku tidak dapat menjelaskannya secara detail, biarlah psikolog yang menguasai bidangnya yang mengkaji lebih dalam.

Kawan, segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan manusia adalah proses sosial dari harapan yang dibentuk manusia, idealisme manusia.


Aku bisa, kau juga bisa!”

Tanjung Redeb, Juli 2009

Literature :

Erich Fromm.2004.Revolusi Harapan: menuju masyarakat teknologi yang manusiawi.Pustaka Pelajar

-Bersambung-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar