Rabu, 29 Juli 2009

KISAH DARI TANJUNG BATU (Bagian2) Mengintip Kisah Remaja di Tanjung Batu


Remaja merupakan bagian dari fase kehidupan masyarakat. Peranannya dalam kehidupan sosial terkadang dianggap sepele oleh fase kehidupan di atasnya. Pada dasarnya, remaja merupakan tonggak regenerasi dalam perubahan sosial, dan remaja memiliki peranan penting untuk kesinambungan kehidupan. Saat ini sekitar 40 juta remaja di Indonesia belum mendapatkan ruang untuk menyampaikan pendapat dan cara pandang di komunitasnya. Energi, idealisme, dan kreatifitas remaja seringkali dilupakan sebagai modal sosial keberlanjutan dan pembangunan dalam komunitas. Padahal dalam waktu 5 tahun ke depan sebagian dari mereka akan segera memasuki usia dimana mereka akan memiliki tanggung jawab baru sebagai orang dewasa dari mulai bekerja, menikah dan berkeluarga.

Di beberapa daerah di Indonesia, komunitas remaja dari kalangan yang berbeda tidak dapat mengakses kualitas pendidikan yang sama. Minimnya sarana dan prasarana di sebuah lembaga pendidikan membuat beberapa remaja kesulitan untuk mengakses informasi pengetahuan. Padahal pendidikan yang berkualitas adalah hak untuk semua warga negara. Adapun diberlakukan pula pola pendidikan “ekonomis” oleh keluarga, komunitas, dan negara kepada remaja yang ditujukan untuk pencapaian status, harta dan kedudukan. Padahal hakikat pendidikan adalah untuk sikap kritis dan mandiri. Sistem pendidikan yang cenderung ”menekan” membuat komunitas remaja tidak terbiasa menghargai hidup dalam keberagaman. Banyaknya beban tugas, baik itu intrakurikuler maupun ekstrakurikuler telah membuat beberapa remaja terbatas dalam pergaulan, adanya segmentasi dan kurangnya waktu luang untuk mengasah kemampuannya sebagai makhluk sosial yang tidak individualis dan bisa mengorganisir diri (bekerja sama) bersama remaja di lingkungan rumah dan masyarakat. Pada saat ini, ruang kebebasan berekspresi untuk remaja lebih di fasilitasi oleh pasar (pemilik modal) daripada oleh negara yang pada akhirnya membuat remaja menjadi konsumtif.

Sekilas Tentang Remaja Tanjung Batu

Kehidupan remaja Tanjung Batu pada dasarnya memiliki kesamaan dengan kehidupan remaja di tempat lainnya di Indonesia, di sisi lain ada yang menarik dengan cerita kehidupan remaja di Tanjung Batu. Hal tersebut bisa dilihat dari aspek lingkungan alam serta sosial mereka. Mayoritas masyarakat Tanjung Batu berasal dari suku Bajau, yaitu sebuah kelompok masyarakat yang mencari penghidupan di laut. Lingkungan alam yang berada di sekitar pesisir laut, membuat masyarakat Tanjung Batu menggantungkan hidupnya pada laut, seperti menjadi penangkap ikan (nelayan), pariwisata; membuka warung makan, menjual aksesoris, dan lainnya. Bahkan kehidupan remaja Tanjung Batu tidak terlepas pula dari kehidupan seputar kelautan. Hal ini diperkuat dengan berdirinya SMK kelautan dan kegiatan olahraga layar di kampung Tanjung Batu. Ruang lingkup keduanya di isi oleh remaja dan anak-anak (yang menjadi atlet olahraga layar adalah anak usia 8 tahun ke atas). Tak dapat dipungkiri jika remaja senang berkumpul bersama teman-teman satu komunitasnya, membentuk kumpulan kegiatan remaja, seperti yang ada di Tanjung Batu. Kegiatan tersebut diantaranya adalah adanya radio komunitas, kegiatan olahraga layar, dan kumpulan anak yang senang nongkrong membentuk kegiatan balap liar, yaitu sebuah ajang kebut-kebutan motor.

Balap liar adalah salah satu tema cerita remaja Tanjung Batu yang diangkat oleh peserta workshop media dalam sebuah diskusi tentang tema kegiatan remaja yang tidak menarik. Mengapa terjadi demikian? Permasalahan mendasar dari remaja yang tinggal di Tanjung Batu adalah terbatasnya informasi pengetahuan, di sisi lain penayangan film ataupun iklan di televisi begitu kuat mempengaruhi remaja Tanjung Batu. Karena remaja merupakan fase mencari jati diri yang selalu ingin tahu dan ingin mencoba hal yang baru, maka lifestyle remaja di perkotaan mempengaruhi kehidupan pergaulan dan konsumerisme remaja Tanjung Batu, seperti adanya balap liar.

Dari segi prasarana dan ruang kreasi untuk remaja, beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat dari kabupaten Berau kadang mengadakan pelatihan yang berkisar tentang kelautan bersama remaja (anak sekolah) ataupun masyarakat. Pemerintah Kabupaten Berau pun ikut mendukung kegiatan anak-anak dan remaja Tanjung Batu yang berkaitan dengan laut, dengan menyediakan fasilitas untuk berlatih layar. Namun, tidak semua anak-anak, remaja ataupun orang tua yang ikut mendukung kegiatan tersebut. Salah satu hal yang menjadi penghambat remaja Tanjung Batu adalah kurangnya inisiatif dari diri sendiri dan kurangnya motivasi untuk menggerakkan kemauan mereka dalam kegiatan. Hal itu pula yang menjadi latar belakang adanya kerusakan pada lingkungan pesisir di Tanjung Batu, salah satunya adalah permasalahan sampah. Permasalahan sampah, kurangnya inisiatif remaja Tanjung Batu untuk mengisi waktu luangnya dengan kegiatan yang positif merupakan isu yang diangkat oleh peserta ”Jalan Remaja 1208” di kabupaten Berau.

-Bersambung-

1 komentar: