Rabu, 29 Juli 2009

KISAH DARI TANJUNG BATU Mengumpulkan Cerita di Kampung Nelayan di Tanjung Batu (Bagian 1)


Kehidupan itu bak misteri. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi besok, meskipun sudah ada rencana hidup yang telah kita persiapkan untuk perjalanan hidup kita besok hari, tapi terkadang situasi dan kondisi akan mengubah rencana hidup manusia. Begitupula dengan perjalanan hidupku kali ini. Terlalu hiperbola? Kehidupan pada dasarnya memang penuh dramatisasi. Tapi, bagiku petualangan ini merupakan rezeki, menambah pengalaman untuk belajar tentang hidup.

Tanjung Batu adalah sebuah kampung nelayan yang menjadi ibukota kecamatan Pulau Derawan di kabupaten Berau. Tanjung Batu juga merupakan pintu gerbang menuju pulau-pulau yang berada disekitarnya. Di perairan kampung ini kita akan melihat ratusan bagan (rumah kayu di atas laut sebagai tempat untuk menangkap dan mengumpulkan ikan, dan jenis ikan hasil tangkapan nelayan kampung Tanjung Batu adalah ikan teri). Di Tanjung Batu ini juga kita akan melihat dinamika kehidupan sebuah kampung nelayan.

Tanggal 18 Juni 2009 ( kalau tidak salah catat) petualangan pertama menuju Tanjung Batu, seorang kawan menjemputku ke rumah dengan taksi sekitar jam 14.00 (transportasi umum di Berau disebut dengan nama taksi, jenisnya seperti mobil pribadi, kalau di Jawa sama dengan mobil travel). Perjalanan ini bertujuan untuk melakukan survei lapangan bagi kegiatan workshop media dalam rangka menyambut hari remaja internasional. Perjalanan Tanjung Redeb menuju Tanjung Batu jarak tempuhnya sekitar 2,5jam. Jarak tempuh itu kalau sama dengan jarak tempuh antara Majalengka ke Bandung. Tapi, perjalanan menuju Tanjung Batu nyaris tanpa hambatan bahkan sang driver begitu cepat menjalankan mobilnya. Pada awalnya aku membayangkan perjalanannya penuh dengan petualangan, jalanan berbatu dengan hutan di kanan kiri jalan. Tapi pada kenyataannya jalanan sudah beraspal, lancar tanpa goyangan ombak banyu seperti layaknya jalan provinsi dari Berau menuju Samarinda.

Di perjalanan menuju Tanjung Batu, sisi kiri dan kanan jalan terlihat rumah-rumah penduduk khas Kalimantan, yaitu rumah kayu walaupun jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya jarang-jarang. Kemudian, kami juga melewati hutan-hutan yang mulai tampak gundul, pertambangan batu bara dan logging. Cuaca saat itu begitu panas, lingkungan pun gersang, hutan tidak lagi belukar, mulai terlihat kerusakan hutan Kalimantan.

Ba’da ashar akhirnya sampai juga di rumah seorang kawan. Di rumahnya kita menginap semalam. Istirahat, melemaskan badan yang kaku dan kepanasan. Jam 17.00 kita keluar untuk memulai survei tempat, yaitu Boathouse (dari namanya kita pasti membayangkan sebuah rumah yang berdiri di atas laut, hmmm..seperti apa ya?). Langit Tanjung Batu begitu cerahnya, semilir angin laut menerpa tubuh kami, butiran-butiran air yang melekat di tubuh pun luluh kering, yang tersisa hanya kesegaran. Matahari rupanya masih enggan menutup diri, mungkin suasananya seperti masih jam 14.00 atau 15.00an. Menyusuri perkampungan nelayan Bajau, mulai terasa suasana kehidupan kampung nelayan, bahkan tercium bau asin dan amis ikan dari laut.

Surprise, perasaanku bahagia tak terkira. Mengapa? Karena aku tidak menyangka bahwa aku bisa juga melihat dan merasakan denyut kehidupan kampung Bajau (suku laut yang menggantungkan hidupnya pada sumber daya alam di laut), bahkan hidup bersama mereka. Empat bulan sebelum kedatanganku ke bumi Batiwakkal (Berau), aku membeli sebuah buku tentang laporan penelitian seorang antropolog mengenai kehidupan suku Bajau di Sulawesi. Buku itu dibeli tanpa rencana, hanya dengan melihatnya, membuatku tertarik, kemudian aku pun membayangkan dan bertanya pada diri sendiri “kapan aku bisa observasi kehidupan suku Bajau?” dan ternyata, kawan dimana aku menginap di Tanjung batu adalah suku Bajau dan mayoritas masyarakat di Tanjung Batu adalah suku Bajau.

Tanjung batu merupakan daerah pesisir, dan suku Bajau di sini tidak lagi tinggal di tengah laut. Rumah-rumah berjejer rapi di kiri kanan jalan yang telah beraspal. Ada rumah permanen (berupa tembok), sebagian lainnya (mayoritas) adalah rumah kayu (panggung) di atas laut (di tepian laut).

Akhirnya tiba juga kita di Boathouse. Lautan terhampar di depan mata memandang. Angin menghapus peluh keringat. Kususuri sudut-sudut Boathouse. Suasana tampak sepi, di dalam sebuah aula tampak berjejer perahu-perahu layar, besar kecil, dan ada juga satu buah jet ski. Di luar aula, di pelataran boathouse tampak tumpukan perahu-perahu layar. Katanya harga satu buah perahu layar berukuran sedang adalah Rp, 300 juta. Latihan layar ini juga difasilitasi oleh Yayasan Nusa Bahari dan Pemkab Berau. Boathouse sebagai tempat untuk latihan layar belum lama berdiri, kira-kira sekitar tahun 2000an. Ada anak yang telah menjadi atlit layar, dia juga sudah memberikan prestasi di ajang Bali Open dan PON 2008.

Kamar di boathouse ada sekitar 9 kamar, dan dua diantaranya akan kita pinjam, dan yang lainnya ditempati oleh atlit dan guru (pengawas/pelatih harian layar).

Setelah persiapan untuk kegiatan workshop media sudah selesai dibicarakan. Warung sanggar (gorengan) adalah tempat yang menjadi tujuan kita selanjutnya. Perut yang berontak dan membunyikan keroncong akhirnya mau juga berkompromi. Sanggar kita bawa di dermaga (jembatan penyebrangan). Wah, rupanya jembatan penyebrangan sudah banyak berkumpul anak-anak dan remaja. Di sanalah mereka menghabiskan waktu sore hari dengan nongkrong berkumpul bersama teman sebaya. Takut juga kita, karena mereka tidak hanya diam berkumpul tapi juga melakukan balap lari, yaitu menjalankan motor dengan laju yang kencang. Jembatan penyebrangan ini baru dibangun pada tahun 2008 untuk menyambut PON 2008, asalnya jembatan penyebrangan ini hanya berupa kayu bukan aspal dan tembok seperti saat ini.

Sunset pun mulai terlihat di ufuk langit Tanjung Batu, waktu menunjukkan jam 18.30, tak lama kemudian adzan magrib memanggil umat muslim untuk menghentikan aktifitasnya dan segera memasuki shaf-shaf di mesjid, berdoa dalam sujud dan tunduk pada Sang Pencipta alam raya. Kita pun pulang...

Menyusuri gang rumah-rumah di kampung nelayan. Beberapa penghuni rumah ada yang masih duduk-duduk di pelataran rumah panggung, melepas penat setelah seharian beraktifitas. Denyut kehidupan Tanjung Batu mulai terasa ketika senja datang, tapi ketika siang hari jalanan begitu lengang, sepi. Ini disebabkan matahari yang begitu terik membakar kulit. Kalimantan merupakan sebuah pulau yang memiliki iklim hutan hujan tropis, jadi selalu hujan sepanjang tahun, dalam arti kata walaupun panas kadang tiba-tiba hujan. Di tepian laut, denyut kehidupan di malam hari begitu terasa, tapi jauh memasuki perkampungan dimana kita tinggal..suasana malam nyaris seperti tanpa kehidupan manusia, hanya ada anjing yang hilir mudik melewati kampung. Kesunyian juga di isi dengan suara gesekan angin dan deburan ombak.

Keesokan pagi, kita melihat sunrise di dermaga. Menunggu kemunculan semburat mentari, rupanya dia enggan menampakkan diri. Awan hitam menggantung di langit Tanjung Batu, perlahan butiran-butiran air jatuh dari balik awan menetes di atas kepala..ya..sudah waktunya pulang ke Tanjung Redeb.

Tanjung Redeb, 28 Juli 2009

-Bersambung-

1 komentar: